JAKARTA, Mevin.ID – Gelombang pertama kendaraan impor asal India untuk operasional Koperasi Merah Putih resmi menginjakkan kaki di Tanah Air. Sebanyak 1.000 unit pikap dilaporkan telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada awal pekan ini (24/2/2026).
Kedatangan unit ini merupakan bagian dari megaproyek impor 105.000 unit kendaraan (pikap dan truk) dari India yang digarap oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.
Kedatangan ribuan unit perdana ini memicu sorotan tajam, mengingat adanya desakan dari pimpinan DPR RI untuk menunda proyek tersebut.
Uang Muka Fantastis: Rp21,58 Triliun
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengonfirmasi kedatangan unit tersebut.
Ia juga mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pihaknya telah menyetorkan uang muka (down payment) sebesar 30 persen kepada prinsipal di India.
Nilai uang muka tersebut tidak main-main, yakni mencapai Rp21,58 triliun. Langkah ini diambil sebagai komitmen setelah proses negosiasi panjang dengan produsen seperti Mahindra dan Tata Motors agar mereka mau memprioritaskan kebutuhan unit Agrinas.
“Kami melakukan pengadaan dengan etika baik (good faith). Angka DP itu sudah kami bayarkan agar produsen bersedia menutup lini produksi lain hanya untuk memenuhi kebutuhan mobil Agrinas,” ujar Joao saat ditemui di Jakarta (24/2).
Abaikan Desakan DPR?
Proyek impor massal ini sebelumnya sempat mendapat “lampu kuning” dari Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang meminta agar proyek tersebut ditunda. Namun, Agrinas tampak terus melaju dengan alasan komitmen kontrak yang sudah berjalan.
Terkait desakan penundaan tersebut, Joao menyatakan akan mempertimbangkan masukan dari DPR, namun ia juga menegaskan konsekuensi yang harus dihadapi jika proyek dibatalkan secara sepihak.
- Potensi Penalti: Agrinas siap menerima konsekuensi denda atau penalti jika negara memutuskan pembatalan kontrak.
- Status Distribusi: 1.000 unit yang sudah tiba di Priok kini dalam tahap persiapan distribusi, meski wilayah penempatan pastinya belum dirinci.
Kenapa Harus India?
Polemik ini memunculkan pertanyaan publik mengenai alasan pemilihan pikap asal India ketimbang memberdayakan industri otomotif lokal.
Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan sebelumnya sempat menyatakan bahwa impor mobil merupakan aktivitas perdagangan bebas, sementara pengamat menilai harga pikap asal India (seperti Mahindra Scorpio) jauh lebih kompetitif untuk operasional logistik pedesaan.
Meski demikian, Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan sejumlah anggota dewan terus menyoroti perlunya memprioritaskan produk dalam negeri untuk proyek berskala nasional seperti Koperasi Merah Putih.
Langkah Agrinas yang tetap menyetor DP triliunan rupiah di tengah dinamika politik di Senayan menjadi sinyal bahwa proyek ini tetap menjadi prioritas strategis bagi perusahaan, meski dihujani kritik.
Publik kini menanti koordinasi antara pemerintah pusat dan DPR untuk menentukan apakah 104.000 unit sisanya akan tetap didatangkan atau proyek ini akan dievaluasi total.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Kompas


























