PAGI ITU, suara azan subuh baru saja memudar. Kabut tipis masih menggantung di depan rumah.
Di ruang tamu sederhana berlantai keramik usang, seorang ibu duduk dengan mukena putih yang sudah mulai menguning di bagian ujung.
Tangannya yang keriput masih menengadah, bibirnya gemetar melafalkan doa yang telah ia ucapkan ratusan kali:
“Ya Rabb, beri aku rezeki 13 miliar. Tanpa susah payah. Tanpa lelah. Dan langsung datang kepadaku.”
Ia tidak bercanda. Setiap kata ia ucapkan dengan iman yang dalam. Dalam pikirannya, 13 miliar bukan angka kosong. Itu rumah yang layak. Biaya sekolah anak-anaknya. Naik haji. Modal untuk membuka warung.
Dan sedikit sisa untuk menua dengan damai. Ia yakin, tak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Bukankah langit bisa membelah laut?
Tapi seperti hujan yang turun tak selalu dari awan cerah, doa itu pun dikabulkan—melalui jalan yang paling kelam.
***
Beberapa bulan setelah doa itu rutin dipanjatkan, telepon rumah berdering. Di seberang sana, suara lelaki dengan nada tergesa berkata:
“Ibu, mohon tenang. Anak Ibu… mengalami kecelakaan.”
Lalu diam.
Hari itu juga, sang ibu kehilangan anaknya. Anaknya yang masih muda, penuh mimpi, belum sempat menikah, belum sempat pulang kampung.
Ia meninggal dunia. Dunia sang ibu runtuh. Tapi beberapa minggu kemudian, datang amplop besar: pernyataan resmi, dan jumlah uang yang mengerikan—13 miliar rupiah.
Persis seperti doanya. Tanpa kerja keras. Tanpa usaha. Tanpa peluh. Langsung masuk rekening.
Tapi tak ada pelukan yang menyambut. Tak ada anak yang pulang. Tak ada doa balasan dari bibir yang dulu rajin mencium tangannya setiap pagi.
Itu bukan rezeki. Itu pengganti. Dan hidup tak pernah bisa diganti dengan uang.
***
Kini, ia duduk setiap malam menatap ke langit-langit rumah. Matanya kosong. Sesekali menangis. Bukan karena uang itu. Tapi karena ia tak menyertakan satu kata penting dalam doanya: afiyah.
“Saya tidak tahu… ternyata Tuhan betul-betul mendengar. Tapi saya lupa bilang: ‘Ya Allah, beri aku rezeki dalam afiyah. Dalam keselamatan… dalam kebaikan.’ Saya lupa minta jalan yang baik, bukan hanya hasil,” katanya lirih, seperti bicara dengan dirinya sendiri.
***
Apa itu Afiyah?
Afiyah, dalam bahasa Arab العافية, berarti keselamatan, kesehatan, dan perlindungan. Bukan hanya sehat secara fisik, tapi juga damai secara batin.
Dalam konteks doa, afiyah adalah permintaan tertinggi yang mencakup semua kebaikan: diberi rezeki tanpa kehilangan, diberi cinta tanpa duka, diberi karier tanpa pengkhianatan.
Imam Hasan al-Bashri pernah berkata:
“Afiyah adalah anugerah yang jika diminta, mintalah ia setiap hari. Karena tanpanya, hidup akan jadi ujian tanpa jeda.”
Dan kisah sang ibu menjadi pengingat keras bagi kita semua. Tentang bagaimana kita sering meminta sesuatu dengan sangat spesifik, namun lupa bahwa hidup bukan hanya tentang hasil, melainkan juga cara menuju ke sana.
Kita meminta jodoh, tapi tak minta agar pernikahan itu diberkahi. Kita meminta anak, tapi lupa mendoakan keselamatan dan keturunannya. Kita minta jabatan, tapi lupa meminta agar tidak dikorbankan oleh ambisi.
Afiyah adalah dinding tak terlihat yang menjaga hidup kita dari ujian yang melemahkan iman. Ia adalah nikmat yang sunyi tapi vital.
***
Di akhir wawancara singkat kami, sang ibu memeluk baju anaknya yang tak pernah dicuci sejak terakhir dipakai. Ia berkata:
“Uangnya ada. Tapi saya lebih rela tinggal di gubuk… asal anak saya pulang.”
Lalu ia menatap langit. Untuk pertama kalinya, ia berdoa lagi. Tapi kalimatnya berubah. Lebih bijak. Lebih dalam. Dan lebih lembut:
“Ya Rabb… beri aku ketenangan. Dalam afiyah.”
Karena kini ia tahu: rezeki sejati adalah hidup yang utuh, hati yang tenang, dan orang-orang tercinta yang masih bisa kita peluk.***


























