42 Ribu Anak Tidak Sekolah: Alarm Keras bagi Masa Depan Sumber Daya Manusia Pandeglang

- Redaksi

Minggu, 15 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Anak Sekolah - Sejumlah siswa mengikuti upacara Bendera di SDN 01 Pagi, Labak Bulus, Jakarta, Senin (27/7). Hari ini para siswa mulai kembali beraktivitas mengikuti pelajaran di sekolah untuk tahun ajaran 2015-2016 usai libur panjang Hari Raya Idul Fitri. ANTARA FOTO/Reno Esnir/Rei/pd/15.

i

Ilustrasi Anak Sekolah - Sejumlah siswa mengikuti upacara Bendera di SDN 01 Pagi, Labak Bulus, Jakarta, Senin (27/7). Hari ini para siswa mulai kembali beraktivitas mengikuti pelajaran di sekolah untuk tahun ajaran 2015-2016 usai libur panjang Hari Raya Idul Fitri. ANTARA FOTO/Reno Esnir/Rei/pd/15.

PANDEGLANG, Mevin.ID – Sebuah angka yang menggetarkan hati muncul dari Kabupaten Pandeglang, Banten. Memasuki tahun ajaran baru 2026, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) setempat mencatat sebanyak 42.415 anak masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah (ATS).

​Bagi masyarakat Pandeglang, ini bukan sekadar statistik. Ini adalah potret puluhan ribu masa depan yang kini tengah terhenti langkahnya karena berbagai tantangan hidup yang kompleks.

​Tantangan Ekonomi dan Harapan yang Tertunda

​Plt. Sekretaris Disdikpora Pandeglang, Nono Suparno, mengakui bahwa keterbatasan ekonomi keluarga masih menjadi alasan utama. Banyak anak yang terpaksa menunda mimpinya demi membantu orang tua memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

​”Kami mencatat total anak tidak sekolah mencapai 42.415 orang. Faktor utamanya adalah kondisi ekonomi dan sosial keluarga,” ujar Nono, Sabtu lalu (7/2/2026).

​Namun, kondisi ini memicu pertanyaan mendalam bagi banyak pihak: Bagaimana kita bisa memastikan hak pendidikan tetap terjaga di tengah himpitan ekonomi yang kian nyata?

​Panggilan untuk Kepedulian Bersama

​Tokoh Banten yang juga pemerhati sosial dan kebijakan publik, Zulhamedy Syamsi, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas fenomena ini.

Baginya, angka puluhan ribu tersebut merupakan sebuah alarm keras bagi keberlangsungan kualitas generasi mendatang.

​”Angka 42.415 adalah peringatan bagi kita semua. Jika satu anak saja putus sekolah sudah merupakan sebuah tragedi, maka 42 ribu anak adalah tantangan sistemik yang nyata. Apa gunanya pembangunan fisik jika generasi mudanya harus tertinggal di belakang?” ungkap Zulhamedy dengan nada santun namun tegas.

​Zulhamedy mengingatkan kembali amanah konstitusi yang tertuang dalam Pasal 28 UUD 1945. Ia menekankan bahwa hak mendapatkan pendidikan adalah hak mendasar yang setara dengan hak untuk hidup.

  • ​Tanggung Jawab Negara, Sesuai mandat undang-undang, negara memegang peranan utama dalam menjamin terlaksananya proses pendidikan.
  • Perlindungan Hukum, Negara memiliki otoritas untuk memastikan terciptanya perlindungan hukum bagi setiap warga negara agar bisa mengakses pendidikan tanpa hambatan.

​Menanti Langkah Nyata di Tengah “Lingkaran Setan”

​Kondisi di lapangan memang tidak mudah. Selain faktor ekonomi, infrastruktur yang kurang memadai juga kerap menjadi rintangan fisik bagi para siswa.

Beberapa waktu lalu, viral perjuangan siswa di Pandeglang yang harus melewati jembatan rusak demi mencapai sekolah—sebuah risiko yang seharusnya tidak perlu mereka hadapi.

​Pemerintah Daerah saat ini memang sedang melakukan validasi data secara menyeluruh. Namun, Zulhamedy dan banyak pihak berharap langkah ini segera diikuti dengan aksi nyata yang menyentuh akar masalah.

​Intervensi yang dibutuhkan bukan sekadar pendataan, melainkan kehadiran solusi kreatif seperti beasiswa tepat sasaran, sekolah terbuka, hingga perbaikan akses fisik menuju sekolah.

Pendidikan, bagaimanapun, adalah jembatan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan martabat manusia di Pandeglang.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Percetakan Al-Qur’an Braille Bandung: Ketekunan Luar Biasa Para Pekerja, Menghindari Kitab Suci Salah Arti
Mengenaskan! Dua Pekerja Tertimpa Marmer Besar di Tasikmalaya, Satu Meninggal
Kasus Maut Labu Siam Cianjur: Ini Hukuman yang Pantas Bagi Pelaku
Banjir Rendam Lampung Selatan, Kendaraan Terseret Arus dan Akses Kota Baru Terputus
Angin Puting Beliung Terjang Cimahi, Pohon Tumbang Timpa Bangunan dan Kendaraan
Aliansi BEM Se-Majalengka Soroti Polemik KDMP, Desak Evaluasi Pembangunan di Ruang Publik
Aksi Heroik di Bekasi: Suami Tabrak Begal demi Selamatkan Istri saat Sahur
232 Halte BRT Bandung Raya Mulai Dibangun, Target Rampung Akhir 2026

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 15:32 WIB

Percetakan Al-Qur’an Braille Bandung: Ketekunan Luar Biasa Para Pekerja, Menghindari Kitab Suci Salah Arti

Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:06 WIB

Kasus Maut Labu Siam Cianjur: Ini Hukuman yang Pantas Bagi Pelaku

Sabtu, 7 Maret 2026 - 05:38 WIB

Banjir Rendam Lampung Selatan, Kendaraan Terseret Arus dan Akses Kota Baru Terputus

Sabtu, 7 Maret 2026 - 04:55 WIB

Angin Puting Beliung Terjang Cimahi, Pohon Tumbang Timpa Bangunan dan Kendaraan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 04:19 WIB

Aliansi BEM Se-Majalengka Soroti Polemik KDMP, Desak Evaluasi Pembangunan di Ruang Publik

Berita Terbaru