JAKARTA, Mevin.ID – Tradisi kembang api yang megah dan konser musik berskala besar yang biasanya menjadi ciri khas malam pergantian tahun kini tak lagi menghiasi langit di berbagai belahan dunia.
Menjelang detik-detik menuju 2026, sejumlah kota besar secara mengejutkan memilih untuk membatalkan atau membatasi perayaan mereka.
Alasan yang melatarbelakangi beragam, mulai dari penghormatan terhadap korban bencana alam, tragedi kemanusiaan, hingga langkah preventif menjaga keamanan publik.
Indonesia: Bali dan Jakarta Satu Suara dalam Empati
Dua magnet utama perayaan tahun baru di Indonesia, Bali dan Jakarta, resmi meniadakan pesta kembang api dan konser terbuka.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk solidaritas nasional terhadap saudara-saudara kita yang tengah berduka akibat bencana banjir dan longsor hebat yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pemerintah Kota Denpasar dan Pemprov DKI Jakarta sepakat bahwa menghamburkan anggaran untuk hura-hura di tengah duka mendalam nasional adalah hal yang tidak patut.
Sebagai gantinya, perayaan dialihkan ke konsep reflektif dan doa bersama secara sederhana.
Peta Pembatalan di Berbagai Belahan Dunia
Tak hanya di tanah air, beberapa kota ikonik dunia juga mengambil langkah serupa dengan pertimbangan yang mendalam:
- Hong Kong: Membatalkan kembang api legendarisnya menyusul masa berkabung akibat tragedi kebakaran apartemen di Tai Po. Fokus perayaan diganti dengan pesan perdamaian.
- Sydney, Australia: Menghapus pesta di Pantai Bondi pasca-insiden penembakan massal Oktober lalu guna menghormati trauma komunitas. Meski kembang api di pelabuhan tetap ada, pengamanan diperketat dan ada momen hening khusus.
- Tokyo, Jepang: Menutup total akses hitung mundur di Shibuya. Langkah ini demi menghindari kepadatan ekstrem (crowd crush) dan konsumsi alkohol berlebihan di ruang publik.
- Paris, Prancis: Menghapus konser di Champs-Élysées demi keamanan, meski kembang api tetap menyala dengan pengawasan ketat aparat.
- Belgrade, Serbia: Membatalkan konser remaja di malam tahun baru karena risiko keselamatan akibat kerumunan massa yang kerap memicu insiden dorong-dorongan.
- Monako: Melarang total kembang api pribadi dan piroteknik untuk mencegah kebakaran dan menjaga ketertiban umum.
Pergeseran Makna Perayaan
Fenomena pembatalan serentak ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang masyarakat global dalam menyambut tahun baru. Tahun 2026 disambut bukan dengan suara bising, melainkan dengan kerendahan hati.
Keselamatan publik dan sensitivitas terhadap tragedi kemanusiaan kini menjadi prioritas di atas gengsi kemeriahan.
Bagi warga dunia, tahun ini menjadi momen untuk “pulang” ke nilai-nilai dasar manusia: saling menjaga dan saling merasakan duka sesama.***
Penulis : Bar Bernad


























