Semarang, Mevin.ID — Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, mengungkap fakta mengejutkan: sebanyak 80 ribu warga negara Indonesia bekerja secara ilegal di Kamboja. Sebagian besar dari mereka terjerat dalam praktik judi online dan penipuan daring (scamming).
“Semua ilegal. Kita tidak punya kerja sama penempatan tenaga kerja dengan Kamboja. Tapi sekarang ada 80 ribu orang di sana,” kata Karding saat kunjungan kerja di Semarang, Selasa (15/4).
Kamboja, menurutnya, kini menjadi “magnet baru” bagi anak-anak muda Indonesia yang ingin mencari peruntungan di luar negeri. Sayangnya, banyak yang justru tertipu dan terjebak dalam jaringan kerja ilegal, tanpa perlindungan hukum yang memadai.
Dibawa Agen Ilegal, Terjerat Judi dan Scam
Karding menyebutkan, para pekerja migran ilegal itu tersebar di berbagai sektor, tapi dominan berada di ranah yang penuh risiko.
“Ada yang jadi operator judi online, ada yang kerja di restoran, tapi kebanyakan ya di judi online sama scamming,” jelasnya.
Fenomena ini, kata dia, merupakan bagian dari tren baru pekerja migran ilegal, selain tujuan-tujuan tradisional seperti Arab Saudi, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan.
Tanpa Data, Sulit Dilacak
Kondisi menjadi makin pelik karena mayoritas pekerja tersebut berangkat secara tidak prosedural, sehingga keberadaan mereka tidak tercatat oleh pemerintah.
“Kalau enggak prosedural, datanya enggak ada. Jadi kalau terjadi apa-apa, seperti meninggal dunia, baru dicari setelah viral,” ungkapnya.
Pihak Kementerian P2MI, katanya, kini tengah melacak identitas seorang pekerja migran yang dilaporkan meninggal dunia di Kamboja. Namun prosesnya terkendala karena korban berangkat secara ilegal.
Langkah Tegas: Agen Ilegal Ditutup
Sebagai respons atas maraknya pengiriman pekerja migran ilegal, Karding menyebut pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan menutup sementara sejumlah agen penyalur tenaga kerja yang tidak memiliki izin resmi.
“Kami sudah tutup tiga agen PMI ilegal. Ini bagian dari upaya pencegahan agar tidak semakin banyak yang jadi korban,” tegasnya.***


























