Subang, Mevin.ID – Di tengah dunia yang semakin riuh oleh konten, sensasi, dan kejaran popularitas, ada satu cerita yang justru bersuara lewat kesunyian. Cerita itu datang dari seorang bocah 15 tahun bernama Adnan Prasetyo.
Ia mengayuh sepeda tua dari Bumiayu, Brebes menuju Subang, Jawa Barat, dengan satu tujuan: ingin bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Bukan demi viral. Bukan untuk sekadar konten. Tapi karena ia merasa sudah tidak tahu harus bicara kepada siapa lagi.
Adnan tidak punya banyak. Ia anak yatim piatu. Sejak kecil diasuh paman dan bibinya di kampung.
Sekolahnya terhenti di kelas dua SMP. Tak ada bangku sekolah tempat ia menaruh cita-cita.
Tak ada rumah yang benar-benar bisa ia sebut pulang. Tapi ia punya satu hal yang jarang dimiliki anak seusianya: tekad.
Menempuh Ratusan Kilometer Untuk Sebuah Harapan
Dengan tekad itulah ia mulai mengayuh sepeda lusuh pemberian warga. Membelah panasnya jalanan, menyusuri ratusan kilometer aspal, hanya untuk menyampaikan langsung permohonannya kepada sosok pemimpin yang ia yakini bisa mengerti.
Ketika akhirnya tiba di pos penjagaan menuju kantor gubernur, petugas sempat menanyainya. Ia tak membawa KTP, tak tamat SMP, hanya menggenggam secari kertas kecil bertuliskan identitas diri. Dan dengan jujur ia berkata, “Saya ingin bertemu Kang Dedi…”
Tak banyak kata. Tapi dari mulut seorang anak yang telah kehilangan banyak hal dalam hidup, kalimat itu terasa seperti jeritan paling sunyi—dan paling dalam.
Sayangnya, KDM sedang tidak berada di tempat. Tapi yang menyambut Adnan justru lebih luas dari yang ia bayangkan: dunia maya yang tersentuh oleh keberanian dan ketulusannya.

Sepeda, Keyakinan, dan Jalan Yang Tak Selalu Ramah
Adnan pernah ditampung di Panti Asuhan Muhammadiyah Bumiayu, demi harapan baru. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, ia pergi diam-diam. Tanpa pamit. Seolah dunia yang terlalu besar ini belum punya ruang yang benar-benar menerima keberadaannya.
Menurut Ibu Tuti Sri Wahyuningsih, tetangganya, Adnan sempat ditawari sekolah gratis di madrasah. Tapi ia menolak. Tak ada yang tahu pasti mengapa. Tapi satu yang jelas: ia memilih mencari jalan hidupnya sendiri, walau sunyi, walau sepi.
Kini, jalannya membawanya ke Subang, ke Lembur Pakuan, tempat tinggal KDM. Ia belum tahu apakah akan diterima. Tapi ia terus mengayuh. Karena mungkin, satu-satunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah harapan.
Suara Sunyi Yang Menyentuh Hati
Kepala Desa Kalierang, Irma Hamdani, menyampaikan keprihatinannya. “Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Tapi memang tidak mudah,” ucapnya pelan.
Adnan tidak sedang menuntut dunia. Ia hanya ingin ada yang mendengarkan. Ia tidak membawa tuntutan, hanya membawa kerinduan akan pengakuan dan secercah arah.
Di balik langkah kecil Adnan, ada suara ribuan anak-anak lain yang juga mencari jalan. Mereka yang tumbuh dalam kekurangan, di luar sorotan, tanpa fasilitas, tapi tetap memilih untuk bertahan.
Perjalanan Adnan bukan hanya soal jarak. Tapi tentang betapa jauhnya ia rela menempuh harapan.
Lebih Dari Sekadar Berita Viral
Hari ini, kita melihat Adnan dari layar ponsel. Kita ikut mendoakan, ikut terenyuh. Tapi esok, semoga kita tidak lupa. Karena kisah ini bukan sekadar berita yang lewat.
Ini adalah pengingat, bahwa di tengah segala gegap gempita digital, masih ada anak-anak yang diam-diam mencari tangan untuk menggenggam mereka.
Mereka tak butuh iba yang cepat hilang. Mereka butuh kesempatan, arah, dan keyakinan bahwa hidup mereka juga layak diperjuangkan.
Adnan mungkin tak membawa banyak bawaan. Tapi dengan sepedanya, ia membawa pesan paling dalam: Bahwa harapan—bahkan dalam bentuk paling sederhana—masih bisa tumbuh.
Di jalanan. Di dada anak yang tak punya siapa-siapa. Kecuali keyakinan bahwa hidupnya layak didengar.***


























