Jakarta, Mevin.ID – Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, meminta pemerintah untuk memitigasi potensi perlambatan ekonomi selama bulan Ramadhan.
Bhima menyoroti sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK), efisiensi belanja pemerintah, tantangan ekspor-impor, dan inflasi yang rendah.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekonomi Ramadhan
Bhima menjelaskan bahwa PHK di sektor padat karya telah mengurangi pendapatan masyarakat, sehingga kemampuan belanja mereka menurun.
“PHK memicu tekanan dari sisi pendapatan, sehingga masyarakat yang terdampak kehilangan kemampuan belanja,” ujarnya.
Efisiensi belanja pemerintah juga berdampak pada aktivitas ekonomi pelaku usaha. Menurunnya permintaan di sektor-sektor seperti akomodasi, perhotelan, restoran, dan sewa kendaraan dapat mempengaruhi pertumbuhan konsumsi rumah tangga selama Ramadhan dan Lebaran.
Deflasi dan Tantangan Ekspor-Impor
Bhima juga mencatat bahwa rendahnya inflasi memperkuat indikasi lemahnya sisi permintaan. Ekonomi Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,09 persen (year-on-year/yoy) pada Februari 2025, yang merupakan deflasi tahunan pertama sejak Maret 2000.
Aktivitas ekspor-impor juga masih menantang akibat perang dagang. Bhima berpendapat bahwa tantangan ini akan mendorong kelompok menengah ke atas untuk menyimpan tabungan alih-alih membelanjakan uang mereka.
Efektivitas Insentif Pemerintah
Bhima menyoroti efektivitas insentif yang digelontorkan oleh pemerintah, seperti insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 6 persen pada pembelian tiket pesawat selama periode mudik Lebaran.
Meskipun pemerintah menghitung insentif ini dapat menurunkan harga tiket pesawat hingga 13-14 persen, Bhima menilai dampaknya relatif kecil karena harga tiket pesawat cenderung lebih mahal selama periode tersebut.
“Pemudik, terutama yang lintas pulau, juga sudah melakukan pembelian tiket penerbangan 1 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga yang lebih murah,” kata Bhima.
Dampak Berakhirnya Diskon Listrik
Berakhirnya diskon listrik pada akhir Februari lalu juga diperkirakan akan mendorong masyarakat untuk menahan belanja dan mengalihkan dana ke tabungan.
Suntikan dari tunjangan hari raya (THR) dianggap belum cukup kuat untuk memitigasi dampak dari berbagai kemungkinan tersebut.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Bhima memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 akan rendah. “Artinya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 diperkirakan akan rendah ya, meski ada Ramadhan dan Lebaran, tapi sulit berada di angka 5 persen,” ujarnya.
Rekomendasi Kebijakan
Menimbang berbagai kemungkinan tersebut, Bhima meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan, termasuk efisiensi belanja dan dukungan terhadap industri padat karya.
“Efisiensi belanja jangan mengarah pada gangguan layanan publik yang esensial dan belanja penting, atau disebut dengan austerity measures. Pulihkan sektor industri padat karya, jangan hanya fokus menarik investasi baru yang butuh waktu,” kata Bhima.
Dengan langkah-langkah ini, Bhima berharap pemerintah dapat memitigasi dampak perlambatan ekonomi dan memastikan stabilitas ekonomi selama Ramadhan dan Lebaran.***


























