Air Mati, Tagihan Jalan: Warga Bumi Kahuripan Indah Protes PDAM Tirta Bhagasasi

- Redaksi

Selasa, 10 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi, Mevin.ID – “Air mati seminggu, tapi tagihan terus mengalir.” Kalimat ini menggema dari puluhan warga Perumahan Bumi Kahuripan Indah (BKI), Sukatani, Kabupaten Bekasi, yang sejak tiga bulan terakhir mengalami krisis air bersih akibat gangguan distribusi dari PDAM Tirta Bhagasasi.

Kekecewaan warga tidak lagi bisa dibendung. Mereka turun ke jalan, berkeliling kompleks perumahan sambil membentangkan spanduk berisi protes terhadap layanan air yang dianggap tak profesional.

Spanduk-spanduk bertuliskan “Air Mati Terus, Tagihan Jalan Terus” dan “Kami Butuh Solusi, Bukan Janji” jadi simbol frustrasi yang memuncak.

Beli Air untuk Mandi dan Masak

Gangguan ini berdampak pada sekitar 1.900 warga di kawasan tersebut. Salah satu warga, Rio Harmonis (32), mengaku harus membeli hingga 10 galon air setiap hari untuk kebutuhan dasar seperti mandi, memasak, dan mencuci. Pengeluaran bisa mencapai Rp60.000 per hari — angka yang memberatkan bagi banyak keluarga.

“Kami sampai harus numpang air dari tetangga yang punya sumur bor. Tapi lama-lama juga enggak enak,” ujar Rio.

Lebih parah lagi, gangguan air ini tidak dibarengi dengan keringanan tagihan. Warga justru mendapati jumlah tagihan membengkak selama krisis air berlangsung, bahkan ada yang mencapai Rp500.000 per bulan.

“Meteran jalan terus walau air enggak ngalir. Kami benar-benar merasa dizalimi,” tambah Rio.

Mengungsi demi Air

Cerita serupa datang dari Rismala (32), warga lain yang akhirnya memilih mengungsi ke rumah saudaranya di Jakarta karena tak sanggup hidup tanpa air bersih di rumah sendiri.

“Daripada tiap hari stres, saya bawa anak ke rumah saudara. Masa di Bekasi, kita sampai ngungsi cuma karena air?” katanya lirih.

Tuntutan: Solusi Nyata, Bukan Sekadar Janji

Warga kini menuntut PDAM Tirta Bhagasasi untuk segera mengambil langkah konkret. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan penampungan air besar di kawasan BKI sebagai cadangan ketika pasokan terganggu.

“Kami bukan minta yang muluk-muluk. Kami cuma minta hak kami: air bersih,” tutup Rio.***

Facebook Comments Box

Penulis : Clendy Saputra

Editor : Pratigto

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sukabumi Kritis: Banjir dan Longsor Terjang 9 Kecamatan, Akses Jalan Putus, Rumah Tertimbun
Pemkot Bekasi Hadirkan Spot Air Minum Prabayar untuk Kurangi Sampah Plastik
Fenomena Air Sungai “Menghilang” di Sumbar, Ini Penjelasan Geologi di Baliknya
Fraksi PDIP Walk Out di Paripurna DPRD Majalengka, Ini Tanggapan Bupati
Sidang Paripurna DPRD Majalengka Diwarnai Walk Out Seluruh Anggota Fraksi PDI-P
Penertiban Bangunan Liar di Bantaran Kalimalang Sempat Diwarnai Bentrokan
Pemkot Bekasi dan Kejari Bekasi Berikan Pembekalan kepada 56 Operator Kelurahan Program Jaga Desa
Pemilihan BEM UBSI Bogor dan Taruhan Arah Gerakan Mahasiswa

Berita Terkait

Rabu, 17 Desember 2025 - 16:58 WIB

Sukabumi Kritis: Banjir dan Longsor Terjang 9 Kecamatan, Akses Jalan Putus, Rumah Tertimbun

Rabu, 17 Desember 2025 - 13:46 WIB

Pemkot Bekasi Hadirkan Spot Air Minum Prabayar untuk Kurangi Sampah Plastik

Rabu, 17 Desember 2025 - 11:46 WIB

Fenomena Air Sungai “Menghilang” di Sumbar, Ini Penjelasan Geologi di Baliknya

Selasa, 16 Desember 2025 - 23:11 WIB

Fraksi PDIP Walk Out di Paripurna DPRD Majalengka, Ini Tanggapan Bupati

Selasa, 16 Desember 2025 - 19:42 WIB

Sidang Paripurna DPRD Majalengka Diwarnai Walk Out Seluruh Anggota Fraksi PDI-P

Berita Terbaru