JAKARTA, Mevin.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan tanaman malapari (Pongamia pinnata) di lahan kering Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu solusi strategis untuk ketahanan energi hijau nasional. Kerja sama ini melibatkan PT Lembata Hira Sejahtera (BATARA) dan Pemerintah Kabupaten Lembata.
Tanaman malapari dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bioavtur – bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang berasal dari minyak nabati non-pangan. Minyak biji malapari dapat diolah menjadi biodiesel dan bioavtur tanpa bersaing dengan kebutuhan pangan serta mendukung kebijakan penerbangan berkelanjutan global.
Prof. Budi Leksono, Peneliti Ahli Utama BRIN, menjelaskan bahwa rendemen minyak alami malapari mencapai 20–28 persen, dan dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen melalui seleksi genetik dan optimalisasi ekstraksi. Tanaman ini juga memiliki keunggulan ekologis sebagai legum yang mampu mengikat nitrogen, sehingga cocok ditanam di lahan marginal dan kering seperti di wilayah timur Indonesia.
“Malapari sangat adaptif pada lahan marginal dan wilayah dengan kondisi kering ekstrem, seperti di Indonesia bagian timur, termasuk Lembata,” ujar Budi dalam diskusi di Jakarta, dikutip Minggu (18/1/2026).
Pengembangan malapari di Lembata diintegrasikan dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat, memungkinkan penanaman tanaman pangan dan komoditas lain di bawah tegakan malapari. Selain mendukung transisi energi, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional.
Ke depan, BRIN akan fokus pada penyiapan benih malapari bersertifikasi dan pengembangan varietas unggul asli Lembata, dengan melibatkan sinergi pentaheliks antara pemerintah, riset, swasta, dan masyarakat.***
Editor : Atep K


























