BOGOR, Mevin.ID – Deru aliran Sungai Cisadane di bawah Jembatan Loji, Jalan KH M Falak, sore itu (29/1) sedang dalam kondisi puncaknya.
Hujan deras mengguyur Kota Bogor, menciptakan arus yang tidak bersahabat.
Namun, di tengah gemuruh air dan dinginnya cuaca, sebuah peristiwa memilukan terjadi. Maulana Yusuf (16), seorang remaja yang dikenal ceria, tiba-tiba berlari dan melompat ke pelukan arus yang menyeretnya hilang dari pandangan.
Setelah tiga hari pencarian intensif yang menegangkan, titik terang akhirnya ditemukan. Minggu (1/2/2026), tim SAR gabungan menemukan raga siswa SMKN 1 Ciomas tersebut di wilayah Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor.

Sosok Hangat dari Griya Ramah Anak
Kepergian Maulana meninggalkan luka mendalam, terutama bagi penghuni Panti Asuhan Satuan Pelayanan Griya Ramah Anak, Cibalagung.
Di sana, Maulana telah tinggal selama tujuh bulan terakhir, tepatnya sejak ia memulai babak baru sebagai siswa kelas 10 SMA.
Bagi pengurus panti, Maulana bukan sekadar penghuni. Ia adalah remaja yang aktif dan taat.
“Aktivitasnya baik, rajin salat berjamaah, dan mengikuti kegiatan lainnya. Tidak ada hal yang mencurigai atau terlihat seperti beban berat,” kenang Acep Yulius, pengurus panti.
Selama tujuh bulan menetap, Maulana dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul.
Bahkan di hari kejadian, ia sedang bersama kerabatnya usai bermain—sebuah rutinitas normal seorang remaja—sebelum akhirnya kejadian tak terduga di Jembatan Loji itu mengubah segalanya.
Pencarian di Sepanjang Arus
Operasi kemanusiaan yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, hingga para relawan dilakukan tanpa kenal lelah sejak Kamis sore.
Penyisiran dilakukan dari titik nol di Jembatan Loji hingga menembus batas wilayah ke arah hilir di Kabupaten Bogor.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko, mengonfirmasi bahwa setelah dievakuasi di Ciseeng, jenazah korban langsung dibawa ke RSUD Kota Bogor.
Di sana, pihak keluarga yang datang jauh-jauh dari Sukabumi telah menanti dengan kesedihan yang tak terbendung.
Sebuah Pengingat bagi Kita
Tragedi yang menimpa Maulana Yusuf menjadi lonceng peringatan bagi kita semua. Sungai Cisadane, dengan segala pesona dan kegarangannya saat hujan deras, menyimpan risiko yang nyata.
Pihak berwenang mengimbau para orang tua, guru, dan masyarakat untuk lebih memperketat pengawasan terhadap anak-anak di sekitar area berbahaya seperti jembatan dan sungai, terutama saat cuaca ekstrem.
Maulana kini telah tenang. Namun, kisah perjalanannya dari Sukabumi, kesehariannya di panti asuhan, hingga kegigihannya bersekolah di Ciomas akan selalu membekas di hati mereka yang mengenalnya.
Selamat jalan, Maulana.***
Editor : Bar Bernad

























