MENTAWAI, Mevin.ID – Sebuah aksi penyelamatan satwa lindung yang penuh tantangan terekam dalam unggahan akun Instagram Ivo Jefry Elika Putra.
Video tersebut memperlihatkan upaya penyelamatan seekor penyu yang terdampar di pesisir pantai dalam kondisi memprihatinkan, terlilit sampah plastik dan jaring nelayan.
Ivo bersama rekan-rekannya bergerak cepat melepaskan lilitan tali plastik yang menjerat tubuh penyu tersebut. Namun, aksi ini bukan sekadar misi lingkungan; ini adalah upaya penyelamatan nyawa manusia melalui edukasi kesehatan.
Trauma Tragedi 2018: Daging Penyu yang Mematikan
Penyelamatan ini dibarengi dengan edukasi keras kepada warga setempat agar tidak mengonsumsi penyu tersebut. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Masyarakat Mentawai memiliki memori kelam terkait konsumsi daging penyu.
Pada Februari 2018, tragedi berdarah terjadi di Desa Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya. Usai menyantap daging penyu dalam pesta adat (punen), puluhan warga mengalami keracunan massal dengan gejala:
- Pusing dan muntah-muntah.
- Sesak napas.
- Tenggorokan berlendir hingga gatal-gatal hebat.
Tragedi tersebut memakan tiga korban jiwa, termasuk dua balita berusia 2,5 dan 4,5 tahun, serta seorang lansia berusia 66 tahun.
Bahaya Logam Berat (Pb) di Tubuh Penyu
Ivo memberikan pemahaman kepada warga bahwa penyu bukan lagi sumber pangan yang aman. Berdasarkan penjelasan medis, penyu seringkali mengandung kadar Logam Berat Timbal (Pb) yang sangat tinggi.
“Akhirnya mereka menerima dengan baik dan mengurungkan niat untuk mengambil dagingnya, dan kita melepaskan penyu tersebut kembali ke laut,” tulis Ivo dalam keterangannya.
Ketegangan dengan Warga Dusun Lain
Meski berhasil membujuk warga sekitar, proses pelepasan tidak berjalan mulus. Setelah dilepaskan, penyu tersebut justru berenang ke arah hulu sungai, yang memancing perhatian warga dari dusun sebelah.
Aksi kejar-kejaran sempat terjadi. Meski sudah diperingatkan mengenai risiko racun mematikan, beberapa warga tetap bersikeras mengejar satwa tersebut.
Beruntung, penyu tersebut akhirnya mengubah arah berenang menuju muara laut, menjauh dari jangkauan pemburu.
“Terakhir kali melihat penyu ini berenang menuju muara laut kembali setelah dikejar. Semoga bisa lepas ke laut,” harap Ivo.
Risiko Kesehatan di Balik Satwa Dilindungi
Selain statusnya yang dilindungi secara hukum, mengonsumsi penyu membawa risiko kesehatan yang fatal. Selain logam berat, penyu diketahui membawa:
- Bakteri Vibrio: Penyebab keracunan makanan akut.
- Parasit berbahaya: Yang dapat merusak organ tubuh manusia.
Aksi yang dilakukan Ivo dan kawan-kawan menjadi pengingat penting bahwa menjaga kelestarian alam berarti juga menjaga keselamatan komunitas dari ancaman kesehatan yang nyata.***
Penulis : Bar Bernad


























