JAKARTA, Mevin.ID – Rencana pemerintah untuk mendatangkan 580.000 ekor Grand Parent Stock (GPS) atau bibit induk ayam dari Amerika Serikat (AS) memicu keresahan di kalangan peternak mandiri.
Kebijakan senilai Rp336,88 miliar (US$17–20 juta) ini dikhawatirkan akan memicu banjir pasokan yang justru menekan kesejahteraan peternak kecil di dalam negeri.
Kekhawatiran Over Supply DOC
Presiden Peternak Layer Nasional (PLN), Musbar, meminta transparansi pemerintah mengenai urgensi tambahan kuota impor ini. Ia mempertanyakan apakah pasokan besar ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil nasional atau justru memperkeruh kondisi pasar yang sudah jenuh.
“Kalau mau ada tambahan 580.000 ekor itu untuk kebutuhan tahun berapa? Untuk ayam potong atau petelur? Para pemain baru harus punya business plan yang terukur agar tidak memperparah kondisi industri,” tegas Musbar, Selasa (24/2/2026).
Senada dengan Musbar, pengamat pertanian dari Core Indonesia, Eliza Mardian, memperingatkan bahwa impor GPS yang tidak terukur berisiko memicu lonjakan produksi Day Old Chick (DOC) di masa depan. Jika pasokan DOC berlebih, harga ayam hidup di tingkat peternak dipastikan akan merosot tajam.
Ancaman Impor Karkas Ayam AS
Selain masalah bibit induk, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) menyoroti potensi masuknya produk turunan berupa karkas ayam atau Chicken Leg Quarter (CLQ) dari Amerika Serikat.
Sekjen Gopan, Sugeng Wahyudi, menjelaskan bahwa impor GPS sebenarnya adalah praktik lazim karena Indonesia belum memiliki kapasitas pembibitan mandiri. Namun, ia mewaspadai rencana AS untuk mengekspor karkas ayam beku dengan harga murah.
- Potensi Dumping: Dikhawatirkan produk karkas AS masuk dengan harga sangat murah yang dapat mematikan usaha peternak rakyat.
- Tumpuan Pendapatan: Budidaya Final Stock (ayam pedaging) adalah tumpuan utama peternak kecil; masuknya karkas impor akan langsung memotong jalur pendapatan mereka.
Penjelasan Pemerintah
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa impor GPS tetap diperlukan karena Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan GPS sendiri untuk menjaga genetik utama ayam nasional.
Selain GPS, Indonesia juga akan mengimpor Mechanically Deboned Meat (MDM) sebanyak 120.000–150.000 ton per tahun sebagai bahan baku industri sosis dan nugget. Meski demikian, pemerintah berjanji akan tetap memprioritaskan perlindungan bagi peternak dalam negeri.
Langkah pemerintah ini bak pisau bermata dua. Di satu sisi, industri memerlukan kepastian bibit unggul, namun di sisi lain, tanpa perhitungan data yang akurat, nasib ribuan peternak mandiri di daerah menjadi taruhannya.
Transparansi kuota dan pengawasan distribusi DOC menjadi kunci agar pasar perunggasan nasional tidak kolaps.***
Editor : Bar Bernad


























