BIMA, Mevin.ID – Proyek pengaspalan jalan menuju Dermaga Kore, Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima kini tengah menjadi buah bibir negatif di tengah masyarakat.
Pasalnya, jalan yang baru saja selesai diaspal pada awal Februari 2026 tersebut kini kondisinya sudah hancur dan terkelupas.
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek ini dikerjakan oleh PT. Citra Harapan Persada di bawah pengawasan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bima.
Proyek dengan nomor kontrak 602.1/252/06.9/2025 ini menelan anggaran APBD tahun 2025 yang fantastis, yakni sekitar Rp1,49 miliar (setara dengan nilai pagu yang dilaporkan warga mendekati Rp1,5 miliar).
Kondisi Memprihatinkan dalam Hitungan Hari
Meskipun pengaspalan hotmix sepanjang kurang lebih 440 meter ini baru dilakukan pada 7-9 Februari 2026, pantauan di lapangan pada Sabtu (21/2/2026) menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Lapisan aspal tampak terangkat dan terpisah dari badan jalan.
Kekecewaan mendalam diungkapkan oleh warga setempat. Mereka mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek yang menelan biaya besar namun tidak bertahan lama.
“Belum sebulan selesai dikerjakan, aspal sudah mengelupas. Gimana ceritanya pekerjaan proyek ini? Padahal sudah menghabiskan anggaran besar,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal, Sabtu (21/2).
Viral di Media Sosial
Kerusakan ini mendadak viral setelah akun Facebook Ratna Mamanya AL mengunggah video yang memperlihatkan lapisan aspal terkelupas dan terangkat seperti lembaran tipis.
Dalam video tersebut, warga terlihat gotong royong memindahkan material aspal yang rusak ke pinggir jalan agar kendaraan tetap bisa melintas.
Diterjang Banjir, Drainase Jadi Sorotan
Derasnya arus banjir yang melanda wilayah tersebut diduga menjadi pemicu utama cepatnya kerusakan jalan.
Namun, warga menilai ada kesalahan teknis dalam perencanaan. Pembangunan jalan hotmix tersebut dianggap tidak dibarengi dengan sistem drainase yang memadai.
Aliran air banjir langsung menghantam badan jalan tanpa ada saluran pembuangan (drainase) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Drainase yang terintegrasi menjadi kunci supaya pembangunan tetap aman dan berkelanjutan. Jika hanya aspal tanpa saluran air, maka akan terus rusak setiap kali hujan turun,” ungkap warga lainnya.
PUPR Masih Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas PUPR Kabupaten Bima belum memberikan tanggapan resmi mengenai insiden ini.
Masyarakat kini mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi kinerja kontraktor PT. Citra Harapan Persada dan meminta pertanggungjawaban terkait kualitas material yang digunakan.
Warga berharap ada perbaikan segera yang lebih berkualitas dan terintegrasi dengan sistem pengendalian banjir, agar uang rakyat miliaran rupiah tidak terbuang sia-sia menjadi material sampah di pinggir jalan.***
Editor : Bar Bernad


























