Surakarta, Mevin.ID – Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, memberikan apresiasi atas kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) yang telah membeli gabah kering petani sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp6.500 per kilogram.
Namun, Riyono mengingatkan bahwa Bulog tidak boleh cepat berpuas diri, mengingat target penyerapan beras dalam negeri sebesar 3 juta ton hingga April 2025 masih menjadi tantangan besar.
“Kerja keras Bulog patut diapresiasi, tapi tidak boleh berhenti di sini. Target 3 juta ton beras, setara dengan 6 juta ton gabah, masih jauh. Tahun 2024, kita baru menyerap 1,2 juta ton. Ini pekerjaan berat yang harus didukung untuk mencapai swasembada pangan pada 2027,” ujar Riyono usai Kunjungan Kerja Spesifik Tim Komisi IV ke Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (20/02/2025).
Dukungan untuk Petani dan Tantangan Pupuk
Sebagai anak petani asal Kabupaten Magetan, Riyono menilai upaya petani dalam meningkatkan produktivitas sawah sudah cukup baik. Namun, ia menyoroti kendala terkait ketersediaan dan kualitas pupuk subsidi yang masih menjadi faktor penentu produktivitas pertanian.
“Produktivitas petani cukup bagus karena kebutuhan pupuk terpenuhi. Tapi, kita masih perlu memperbaiki kualitas pupuk subsidi agar benar-benar layak. Harus diingat, 65% produktivitas pertanian kita bergantung pada pupuk. Jadi, selain harga gabah yang baik, ketersediaan pupuk dan penyerapan Bulog harus dipercepat,” tegas politisi Fraksi PKS ini.
Ketersediaan Gudang Bulog dan Jaminan Penyerapan Gabah
Riyono juga mengungkapkan bahwa gudang Bulog di Gulun, Magetan, Jawa Timur, saat ini baru terisi 28 ton dari total kapasitas 10.000 ton. Menurutnya, dengan luas lahan pertanian mencapai 73 hektar per desa di Magetan, penyerapan gabah oleh Bulog seharusnya bisa lebih cepat.
“Petani butuh jaminan bahwa gabah mereka akan diserap 100% oleh Bulog. Jika ada yang menyerap di bawah harga Rp6.500 per kilogram, laporkan ke kami di Komisi IV DPR RI. Kami akan fasilitasi dan advokasi agar Bulog bisa membeli gabah petani secara maksimal,” tuturnya.
Waspadai Dampak Cuaca Ekstrem
Terakhir, Riyono mengingatkan Bulog untuk mewaspadai cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina yang berpotensi memengaruhi produksi beras lokal. “Kita harus antisipasi dampak La Nina terhadap produksi beras. Ini penting untuk menjaga stok dan stabilitas harga,” pungkasnya.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Riyono menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, Bulog, dan petani menjadi kunci untuk mencapai target swasembada pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional.***


























