Antara Program 1 Juta Hektare Pohon Aren dan Lambatnya Implementasi

- Redaksi

Jumat, 24 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aren Fest di Ciamis

Aren Fest di Ciamis

Oleh : Yoyo SutaryaPetani Muda Ciamis

Mari kita lihat pohon aren di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Pohon ini populer, tetapi tidak mendapatkan perhatian serius, baik dari sisi pengelolaan produk maupun pelestariannya.

Misalnya, gula aren kerap bersaing dengan gula merah campuran, yang membuat konsumen ragu terhadap keaslian produk. Hal ini diperburuk oleh ketiadaan regulasi resmi terkait gula aren, sehingga pengembangannya terhambat.

Di sisi lain, keberadaan pohon aren semakin langka. Tidak ada peraturan daerah (PERDA) yang melindungi tanaman ini, padahal aren merupakan salah satu pohon terbaik untuk menyerap air dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Di Ciamis, daerah resapan air terus menyusut tanpa ada regulasi yang jelas. Namun, masyarakat adat di Kampung Kuta tetap melestarikan pohon aren sebagai bagian dari adat dan keseimbangan lingkungan, menunjukkan pentingnya pohon ini dalam menjaga ekosistem.

Program Ambisius, Implementasi Lambat

Pada akhir Desember 2024, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan yang dipimpin oleh Menteri Raja Juli Antoni meluncurkan program ambisius untuk memproduksi bioetanol dari pohon aren.

Program ini menargetkan penanaman 1,5 juta pohon aren di atas lahan seluas 1 juta hektare dengan proyeksi menghasilkan 24 ribu kiloliter bioetanol per hektare. Program ini dianggap strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Namun, di tengah ambisi besar tersebut, implementasi program menghadapi berbagai kritik, mulai dari minimnya keterlibatan masyarakat adat hingga lambannya langkah nyata di lapangan.

Salah satu kendala utama adalah waktu panen pohon aren yang memakan waktu hingga tujuh tahun, sehingga hasilnya baru akan terasa dalam jangka panjang. Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah memberikan dukungan penuh, hingga kini langkah konkret masih terbatas.

Di Kampung Adat Kuta, Ciamis, masyarakat telah lama menjaga pohon aren sebagai bagian dari budaya dan ekosistem mereka. Aren tidak hanya menjadi sumber resapan air, tetapi juga digunakan untuk produksi gula aren dan kerajinan dari ijuk.

Namun, pemerintah belum melibatkan masyarakat adat dalam perencanaan maupun pelaksanaan program ini, sehingga potensi lokal yang ada tidak dimanfaatkan dengan optimal.

Potensi Lokal yang Terabaikan

Sementara pemerintah pusat masih berkutat pada perencanaan, masyarakat lokal di Jawa Barat telah menunjukkan inisiatif konkret. Dalam Festival Aren #1 pada 10 November 2024, pegiat aren, akademisi, dan petani memaparkan berbagai inovasi, antara lain:

Inovasi Pembibitan Modern: Metode pembibitan tanpa proses alami telah ditemukan dan siap diterapkan secara massal. Bahkan, perusahaan Belanda tertarik membudidayakan pohon aren di Sulawesi.

Penanaman Serentak 10 Ribu Pohon: Pegiat aren merencanakan rekor MURI Asia Tenggara dengan menanam 10 ribu pohon secara serentak.

Program Kampung Aren: Satu kecamatan direncanakan menjadi sentra aren yang dikelola oleh Dinas Perkebunan Jawa Barat.

Kerja Sama dengan BBWS: Kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dirancang untuk menanam pohon aren di daerah-daerah yang membutuhkan penguatan ekosistem air.

Namun, inisiatif-inisiatif ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Dukungan yang dibutuhkan untuk mempercepat realisasi program bioetanol dari pohon aren masih minim.

Pentingnya Aksi Nyata

Pemerintah lebih sibuk dengan retorika besar daripada memanfaatkan potensi lokal. Sebenarnya, di tingkat lokal sudah siap dengan inovasi dan program konkret, tetapi pemerintah hanya fokus pada narasi tanpa langkah nyata. Ini menunjukkan kegagalan memanfaatkan momentum dan potensi yang ada.

Selain itu, masalah keselamatan kerja bagi petani aren juga perlu diperhatikan. Banyak petani menghadapi risiko kecelakaan kerja tanpa adanya pelatihan atau dukungan keselamatan dari pemerintah.

Program bioetanol dari pohon aren memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan energi nasional. Namun, jika implementasinya terus lambat dan masyarakat lokal diabaikan, program ini hanya akan menjadi retorika kosong. Pemerintah perlu segera bergerak dengan melibatkan masyarakat adat, memanfaatkan potensi lokal, dan memastikan program ini benar-benar terealisasi sebelum peluang besar ini hilang.

Yoyo Sutarya, Petani Muda Ciamis, Seorang Pegiat Aren

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bencana di Cermin Kontradiksi, Membaca Sumatra dalam Aforisme Reeves
Semoga Surga Tak Ikut Rusak Saat Dihuni Manusia
Ketika Topeng Jatuh: Refleksi Atas Perubahan dan Kebenaran Diri
Ketika Baju Murah Menjadi Mahal, Drama Sunyi di Balik Ledakan Thrifting Indonesia
Antara Panggung Politik dan Lumpur Banjir: Mengapa Respons Pejabat Dinilai Hambar?
Banjir, Tubuh Bumi, dan Tangis Warga: Kisah Sumatera yang Terkoyak
Pelajaran dari Rumi, Ruang Sunyi dan Luka
Komitmen Antikorupsi di Tengah Bencana: Banjir dan Longsor, Jeritan Alam Akibat Korupsi

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:50 WIB

Bencana di Cermin Kontradiksi, Membaca Sumatra dalam Aforisme Reeves

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:48 WIB

Semoga Surga Tak Ikut Rusak Saat Dihuni Manusia

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:45 WIB

Ketika Topeng Jatuh: Refleksi Atas Perubahan dan Kebenaran Diri

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:20 WIB

Ketika Baju Murah Menjadi Mahal, Drama Sunyi di Balik Ledakan Thrifting Indonesia

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:16 WIB

Antara Panggung Politik dan Lumpur Banjir: Mengapa Respons Pejabat Dinilai Hambar?

Berita Terbaru