Cianjur, Mevin.ID – Matahari belum muncul sepenuhnya di langit Cianjur, tapi deretan manusia sudah mengular di sepanjang Jalan Siliwangi. Pakaian hitam putih, berkas lamaran di tangan, dan harapan di dada. Itulah pemandangan yang terjadi Senin pagi (14/7/2025), ketika ribuan pencari kerja memadati kawasan Santiong untuk melamar pekerjaan di sebuah toko ritel lokal, Khaira Store.
Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB. Beberapa dari luar kota—Bogor, Sukabumi, hingga Pangandaran. Kebanyakan adalah fresh graduate, wajah-wajah muda yang belum lama meninggalkan bangku sekolah atau kampus, kini berdiri berdesakan demi satu peluang kerja.
“Situasi pagi ini antrian ribuan pelamar terus memadati kawasan Santiong Jalan Siliwangi Cianjur untuk melamar pekerjaan di sebuah toko ritel hits di Cianjur,” tulis akun TikTok @cianjurtea_ dalam unggahan viral yang memperlihatkan lautan manusia bergerak perlahan seperti antre sembako.
@cianjurtea_Situasi pagi ini antrian ribuan pelamar terus memadati kawasan Santiong Jalan Siliwangi Cianjur untuk melamar pekerjaan di sebuah toko ritel hits di Cianjur (Senin, 14 Juli 2025). Gimana dari kalian ada yg ikut antri melamar disini? #cianjur
Khaira Store, ritel yang membuka 50 lowongan untuk posisi seperti kasir, waiter, staf gudang, hingga konten kreator, tak pernah membayangkan antusiasme yang sedemikian besar. “Jumlah pelamar sudah tembus seribu lebih,” ujar Ros Isnawati Nuraeni, perwakilan toko. “Kita awalnya buka lewat media sosial saja.”
Saking padatnya, manajemen memutuskan menerima semua dokumen tanpa seleksi awal. Namun, mereka pun kewalahan. Banyak pelamar tak sempat ditangani. Mereka hanya bisa meninggalkan map cokelat dan menatap antrean yang tak kunjung habis.
“Kami mohon maaf. Gak nyangka bakal semembludak ini,” tulis pihak Khaira Store dalam kolom komentar.
Realitas Baru Lulusan Baru
Pemandangan semacam ini bukan pertama kalinya terjadi. Di era pascapandemi, walk-in interview yang membludak adalah gejala dari satu hal: kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan lapangan pekerjaan yang tersedia. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, pada 2025 angkatan kerja Indonesia telah mencapai 149 juta jiwa—dengan tambahan 2–3 juta pencari kerja baru tiap tahun.
Sayangnya, mesin ekonomi belum mampu menyesuaikan laju pertumbuhan ini. Dunia usaha menahan ekspansi, lapangan kerja tetap terbatas, sementara setiap tahun selalu ada lulusan baru yang perlu diserap.
Warganet pun geram sekaligus sedih. Banyak yang menyayangkan metode walk-in interview yang dinilai tak efisien dan justru menyulitkan. “Mending pakai link form, jadi tinggal seleksi yang cocok saja yang dipanggil,” tulis akun @angginoviantykur.
Yang lain mengekspresikan empati mendalam:
“Ya Allah sedih banget lihat teman-teman yang rela panas-panasan, desek-desekan biar bisa kerja. Semoga ada kabar baik setelah penantian yang penuh perjuangan itu,” tulis akun @4kunb3rdu2.
Di Balik Map Cokelat dan Senyum Teguh
Mungkin mereka yang berdiri berjam-jam di bawah matahari itu tidak tahu siapa yang akan membaca surat lamarannya. Mungkin mereka hanya percaya bahwa hari itu bisa menjadi titik balik. Namun bagi kita yang menyaksikan dari layar ponsel—baik sebagai penonton, pembuat kebijakan, atau pemilik bisnis—pemandangan ini seharusnya lebih dari sekadar konten viral.
Ini adalah panggilan untuk empati, dan lebih dari itu, panggilan untuk perombakan sistem. Karena di balik ribuan map cokelat yang ditinggalkan itu, ada ribuan kisah tentang anak muda yang tak menyerah, meski dunia kerja kian sempit dan mimpi harus terus diperjuangkan.***


























