APBN Tembus Defisit Rp560,3 Triliun Per November, Negara Makin Boros atau Belanja Perlu Digenjot?

- Redaksi

Kamis, 18 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI)

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI)

Jakarta, Mevin.ID – Anggaran Negara kembali merah. Per November 2025, defisit APBN mencapai Rp560,3 triliun, setara 2,35 persen terhadap PDB. Angka itu dirilis Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis 18 Desember.

Pendapatan negara baru menyentuh Rp2.351,5 triliun. Sementara belanja sudah melejit ke Rp2.911,8 triliun. Selisihnya melebar dan menjadi sinyal beban fiskal kian berat menjelang tutup tahun.

“Defisit APBN tercatat sebesar Rp560,3 triliun atau 2,53 persen terhadap PDB. Ini masih dalam batas yang terkelola dan sesuai desain APBN,” kata Purbaya.

Dari mana uang negara masuk?

Penerimaan yang sudah terkumpul baru 82,1 persen dari proyeksi APBN 2025. Rinciannya:

  • pajak Rp1.634,4 triliun
  • kepabeanan dan cukai Rp269,4 triliun
  • penerimaan negara bukan pajak Rp444,9 triliun

Masih ada jarak menuju target total Rp2.865,5 triliun.

Untuk apa negara membelanjakannya?

Belanja negara sudah terserap 82,5 persen dari pagu Rp3.527,5 triliun, meliputi:

  • belanja pemerintah pusat Rp2.116,2 triliun (79,5 persen)
  • transfer ke daerah Rp795,6 triliun (92,1 persen)

Keseimbangan primer tercatat Rp82,2 triliun, setara 74,8 persen dari target tahun ini.

Pertanyaan publik mulai menggantung

Defisit memang masih dalam rentang aman, namun tren serapan belanja yang jauh melampaui pendapatan kembali menguji efektivitas kebijakan fiskal. Apakah target pendapatan terlalu optimistis, atau belanja negara yang terlalu agresif?

Angka-angka ini menunggu jawaban, terutama ketika tekanan ekonomi global dan dampak bencana nasional masih menghantui keuangan daerah dan pusat.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!
Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 
Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun
Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara
Rekrutmen Kemenkes Program Penguatan Sistem Rujukan Nasional, Link Pendaftarannya di Sini
Minimarket Sumedang Wajib ‘Wakaf Hijau’? Tuntutan Syarat Izin Baru Berbasis Lingkungan Mencuat
Disindir Prabowo Soal Praktik ‘Main Mata’ di Pajak dan Bea Cukai, Menkeu Purbaya Siap Bersih-Bersih Skuad
Rahasia Gizi Super Ikan Sidat: Omega 3 Tertinggi di Dunia Versi BRIN

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 22:34 WIB

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:15 WIB

Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:44 WIB

Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun

Rabu, 14 Januari 2026 - 08:44 WIB

Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rekrutmen Kemenkes Program Penguatan Sistem Rujukan Nasional, Link Pendaftarannya di Sini

Berita Terbaru

Ilustrasi bunuh diri. (Envato/LightFieldStudios)

Kolom

Skrining Dini Kesehatan Mental

Selasa, 20 Jan 2026 - 19:29 WIB