SIANG saat salat jum’at di Masjid SMAN 72 Jakarta berubah menjadi babak baru kesadaran nasional.
Sebuah ledakan—kecil namun cukup untuk membuat siswa panik dan polisi berdatangan—memecah rutinitas sekolah pada 7 November 2025.
Tidak ada korban, tetapi temuan di lokasi lebih mengejutkan dari suara bom itu sendiri.
Sebuah airsoft gun rakitan. Penuh coretan simbol dan nama teroris supremasi kulit putih. Benda yang tidak selayaknya berada di tangan seorang pelajar Indonesia.
Kenyataan itu membuat penyelidikan bergerak cepat. Densus 88 turun tangan. Pihak sekolah terdiam dalam kebingungan. Para orang tua mengetatkan genggaman di layar ponsel mereka, menunggu kabar terbaru dari grup WhatsApp.
Namun seiring investigasi mendalam berlangsung, muncul lapisan cerita yang lebih gelap dari sekadar radikalisasi digital: pelaku diketahui kerap menjadi korban perundungan di sekolahnya sendiri.
Upaya balas dendam itu kini berujung pada aksi yang mengguncang seluruh negeri.
Dendam Anak yang Terluka
Dari keterangan beberapa siswa dan guru, pelaku bukan sosok populer. Ia pemalu, sering menyendiri, dan menurut sejumlah teman sekelas, kerap menjadi target ejekan—mulai dari penampilan hingga pilihan hobinya yang dianggap “aneh”.
Di dunia nyata ia disingkirkan.
Di dunia maya ia disambut—oleh mereka yang memelihara kemarahan.
Para penyidik menduga, pelaku menemukan pelarian pada komunitas ekstremis daring yang menyanjung kekerasan sebagai bentuk “pembalasan”.
Sehingga ledakan itu bukan sekadar aksi nekat, melainkan pesan bahwa ia tidak lagi ingin menjadi korban. Ia ingin menjadi sosok yang ditakuti.

Ketika Idola Salah Arah
Pada airsoft gun rakitan itu ditemukan tiga nama yang menjadi idola baru sang pelaku:
Brenton Tarrant. Alexandre Bissonnette. Luca Traini.
Tiga pelaku teror supremasi kulit putih yang mengincar masjid dan kaum minoritas.
Tiga simbol teror dari belahan dunia yang berbeda, namun punya benang merah: kekerasan sebagai ekspresi dendam dan kebencian.
Pelaku bukan paham latar sejarah mereka, namun ia memahami satu hal yang ditawarkan mereka:
Bahwa korban bisa menjadi algojo.
Yang dibungkam bisa membuat dunia mendengar.
Dan dalam logika kelamnya, ia merasa menemukan tempat yang tepat untuk menaruh rasa sakitnya.
“14 Words” dan Dunia Imajinasi Gelap
Selain nama-nama itu, airsoft gunnya memuat simbol-simbol radikal:
- “14 Words” — mantra rasis supremasi kulit putih
- “For Agartha” — konspirasi mistik yang berkembang di forum ekstrem kanan
Untuk sebagian remaja yang tersesat di internet gelap, simbol seperti ini terlihat keren, penuh misteri, dan memberi ilusi kekuatan.
Bagi pelaku, ia bukan lagi anak yang ditertawakan di sekolah. Ia kini menjadi bagian dari “perjuangan global”.
Perundungan: Celah yang Dimanfaatkan Ekstremisme
Banyak pihak terkejut bagaimana ideologi rasis dari luar negeri dapat menancap di tanah beragam seperti Indonesia. Namun jawaban itu justru ada dalam pengalaman yang sangat dekat yakni perundungan.
Perundungan membuka luka,
internet menawarkan yang menutup — namun dengan racun.
Algoritma merangkul yang terbuang.
Forum anonim memberi ruang bagi amarah.
Narasi ekstremisme memberi arah bagi dendam.
Dan sekolah—yang seharusnya jadi tempat aman—kadang tak sempat menyadarinya.
Indonesia Tidak Boleh Telat Bertindak
Kasus SMAN 72 menjadi pelajaran bahwa ancaman radikalisme kini berwajah baru:
- tidak berbahasa Arab, tapi bahasa meme dan forum Discord
- tidak mengatasnamakan agama, tapi balas dendam sosial
- tidak dimulai dari doktrin, tapi dari luka psikologis anak-anak kita
Pemerintah bisa menambah kamera keamanan, tapi kamera tidak bisa mengawasi rasa tersingkirkan.
Guru bisa menegur, tapi teguran tidak bisa menyembuhkan harga diri yang diremukkan.
Sebelum Api Itu Membakar Lebih Banyak
Ledakan tersebut mungkin kecil. Tapi ia adalah sinyal bahwa ada api ideologi yang menyala dalam jiwa remaja yang marah dan merasa sendirian.
Kita perlu bertanya:
- Apakah kita sudah cukup peka pada tanda-tanda perundungan?
- Apakah sekolah menyediakan ruang aman bagi siswa yang merasa berbeda?
- Siapa yang berbicara pada remaja kita saat mereka terluka?
Karena yang terjadi di SMAN 72 bukan sekadar kasus kriminal. Bukan sekadar radikalisasi. Bukan sekadar airsoft gun.
Ini adalah jeritan seorang pelajar yang mencari kekuatan pada tempat yang salah.
Dan jika kita tidak mendengar jeritan itu, bukan tak mungkin akan ada nyala api berikutnya di sekolah lain di anak yang lain yang merasa derita mereka tak dihiraukan dunia.***
Penulis : Bar Bernad


























