Davao City, Mevin.ID — Di era di mana batas antarnegara semakin kabur dan percakapan lintas budaya terjadi dalam hitungan detik, dua dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) membawa pendekatan baru dalam dunia pendidikan: mengajarkan toleransi melalui bahasa dan teknologi virtual reality (VR).
Mereka adalah Prof. Dr. Nuruddin, MA. dan Ikhwan Rahman Bakhtiar, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UNJ, yang melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaboratif Internasional (P2M-KI) di Wisdom Islamic School, Davao City, Filipina, pada 9–11 September 2025.
Tema kegiatan mereka cukup visioner: “Implementasi Pembelajaran Bahasa Lintas Budaya bagi Pemuda ASEAN dalam Meningkatkan Pemahaman dan Praktik Toleransi Antarbangsa Menggunakan Teknologi Virtual Reality (VR).”
Melalui workshop selama tiga hari, para peserta — siswa dan tenaga pendidik Wisdom Islamic School — diajak mengalami langsung bagaimana teknologi VR dapat menjadi ruang interaksi lintas budaya.
Dengan mengenakan headset VR, mereka “berkeliling” ke berbagai ruang sosial virtual di kawasan ASEAN, belajar mengenali perbedaan bahasa, ekspresi, dan nilai-nilai yang hidup di tiap negara.
“Bahasa adalah pintu masuk ke dalam pikiran dan budaya orang lain. Dan VR membuka pintu itu dengan cara yang lebih nyata dan empatik,” ujar Prof. Nuruddin dalam sambutan pembuka yang digelar di teras aula masjid sekolah.
Menurutnya, pembelajaran lintas budaya bukan hanya persoalan memahami struktur bahasa, melainkan juga memahami konteks sosial dan nilai kemanusiaan di baliknya.
Di tengah masyarakat majemuk seperti Davao City, kemampuan memahami “yang berbeda” menjadi modal penting dalam menanamkan moderasi beragama dan hidup berdampingan secara damai.
Teknologi sebagai Jembatan Empati
Di ruang kelas konvensional, belajar bahasa sering kali berhenti pada aspek kognitif — membaca, menulis, berbicara. Namun dengan VR, para siswa diajak mengalami langsung percakapan dalam lingkungan imersif: memasuki pasar di Bangkok, berdialog di ruang kelas Malaysia, hingga menghadiri simulasi diskusi multikultural di Jakarta.
Pendekatan ini, menurut Ikhwan Rahman Bakhtiar, bukan sekadar eksperimen teknologi, tetapi bagian dari upaya mengembangkan “kesadaran lintas budaya” di kalangan pemuda ASEAN.
“VR memberi pengalaman emosional yang tak bisa didapatkan dari buku teks. Ketika siswa ‘hadir’ di ruang sosial yang berbeda, mereka belajar memahami tanpa harus dihakimi,” tuturnya.
Dari Bahasa Menuju Perdamaian
Kegiatan P2M-KI ini tak hanya memperkenalkan inovasi pengajaran, tapi juga memperkuat diplomasi akademik Indonesia di kawasan ASEAN. Di tengah isu globalisasi dan pergeseran nilai, pendidikan menjadi arena penting untuk membangun kembali rasa kemanusiaan.
Menutup kegiatan, Prof. Nuruddin menyampaikan terima kasih kepada pihak Wisdom Islamic School atas sambutan hangat dan kerja sama yang terjalin. Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi awal dari jejaring pendidikan lintas negara yang berkelanjutan.
“Kita bisa menggunakan teknologi untuk banyak hal, tapi yang paling penting adalah bagaimana ia mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih memahami manusia lainnya,” ujarnya.
Dengan kolaborasi seperti ini, UNJ menunjukkan bahwa masa depan pendidikan bukan hanya soal kecerdasan digital, tetapi juga soal membangun empati melalui bahasa dan teknologi.
Di tangan para pendidik yang visioner, realitas virtual menjadi cara baru untuk merasakan kemanusiaan yang sesungguhnya.***
Penulis : Pratigto


























