BANDUNG, Mevin.ID – Kawasan Bandung Utara (KBU) dinilai mengalami krisis ekologis dan ekonomi yang saling berkait. Bencana longsor hebat di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, adalah contoh nyata dari pengabaian fungsi ekosistem.
Kerusakan lingkungan akibat praktik pertanian monokultur sayuran di lahan perbukitan telah memicu tiga dampak serius: kemiskinan petani, banjir lumpur ke Kota Bandung, dan peningkatan suhu panas di wilayah Bandung Raya.
Faiz Manshur, Ketua Yayasan Odesa Indonesia, dalam analisisnya yang diterbitkan belum lama ini menyatakan bahwa problem ini paling kentara di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, namun juga relevan dengan wilayah perbukitan lain seperti Lembang, Cilengkrang, dan bahkan Bandung Selatan.
Monokultur: Lingkungan Rusak, Petani Melarat
Menurut Manshur, hamparan sayuran puluhan ribu hektar di perbukitan telah menggantikan vegetasi alami. Hilangnya pepohonan besar mengakibatkan tanah kehilangan kemampuannya menahan air, mempercepat erosi, dan membuat unsur hara menguap.
“Tanah mengeras. Tanaman sulit berkembang. Petani kini hanya bisa menanam 2 kali setahun, sering gagal panen, padahal 20 tahun lalu bisa 4-5 kali,” ujarnya.
Data Yayasan Odesa Indonesia (2016-2026) mengungkapkan keprihatinan ekonomi: petani kecil pemilik lahan 0,25 hektar hanya berpenghasilan rata-rata Rp 14 juta/tahun (Rp 1,1 juta/bulan). Sementara petani penggarap atau penyewa tanah pendapatannya hanya sekitar Rp 8 juta/tahun (Rp 660 ribu/bulan).
Polikultur dan Pemberdayaan Jangka Panjang
Sebagai solusi konkret, Manshur mengusulkan peralihan dari monokultur ke sistem agroforestri polikultur yang memadukan sayuran, tanaman buah-buahan lokal, dan tanaman herbal.
“Solusi yang mengintegrasikan problem ekonomi dan ekologi adalah menanam pohon buah-buahan. Tak perlu menghentikan sayuran, tetapi diversifikasi dengan durian, alpukat, sirsak, nangka, matoa, cengkeh, serta sayuran bernutrisi tinggi seperti kelor dan pepaya,” paparnya.
Bukan Sekadar Bantuan Instan
Kunci keberhasilan, tegas Manshur, terletak pada pendekatan pemberdayaan berbasis gerakan sosial, bukan sekadar distribusi bantuan sesaat. Gerakan sosial mensyaratkan ketekunan, inovasi berkelanjutan, dan komitmen jangka panjang untuk belajar dan menemukan solusi bersama petani.
“Warga kota dan semua pihak bisa ambil bagian dengan cara nyata: mendonasikan dan mendistribusikan jutaan bibit buah kepada petani di Cimenyan dan sekitarnya. Ini investasi untuk tiga kesehatan sekaligus: sehat satwa, sehat lingkungan, dan sehat manusia melalui pangan yang lebih beragam dan bergizi,” ajaknya.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengentaskan kemiskinan struktural petani, tetapi juga merehabilitasi kerusakan lingkungan, mengurangi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, serta menciptakan ketahanan pangan dan iklim mikro yang lebih baik untuk Kawasan Bandung Raya.***
Editor : Atep K
Sumber Berita: Odesa Indonesia


























