Aceh Tamiang, Mevin.ID – Aceh Tamiang melewati satu pekan paling panjang dalam sejarahnya. Setelah banjir bandang dan longsor menerjang pada Rabu (26/11), wilayah ini seolah terputus dari dunia.
Tidak ada listrik. Tidak ada air bersih. Tidak ada sinyal. Bahkan, selama sembilan hari—tidak ada bantuan yang benar-benar sampai.
Dalam gelap yang muram, bau bangkai yang menusuk, dan jalanan yang menjadi lumpur raksasa, warga bertahan hidup hanya dengan apa yang mereka temukan.
Bagi Arif, warga Kampung Dalam, semua itu terasa seperti film kiamat.
“Kayak kota zombie,” ujarnya. Bukan kiasan. Benar-benar mencekam.
Banjir yang Datang Pelan—Lalu Menenggelamkan Semuanya
Sejak Minggu, hujan tak berhenti. Arif masih bisa mengantar istrinya bekerja pada Rabu pagi, meski air sudah selutut. Tapi pada dini hari berikutnya, pintu rumahnya digedor tetangga.
“Air sudah sampai halaman!”
@bangmaul1901Banjir Aceh Tamiang #prayforaceh #banjiraceh #banjiracehtamiang
Kampung Dalam selama ini dianggap kawasan aman karena berada di dataran tinggi. Tetapi hari itu, tak ada lagi tempat yang cukup tinggi. Arif dan 15 orang lainnya berlari ke masjid dua lantai. Hanya tiga jam berselang, banjir menenggelamkan kota hingga setinggi tiga meter.
Di lantai dua masjid itu, 500 orang bertahan. Anak-anak menangis kehausan, seorang ibu melahirkan di tengah kepanikan, dan warga berebut air minum karena tidak ada satupun sumber air bersih yang tersisa.
Air, Satu-Satunya Harapan
Sabtu pagi, banjir masih sepinggang orang dewasa. Arif nekat menerobos arus sedalam 1,5 meter demi satu hal: mengingat bahwa di rumahnya ada toren air.
Ia berenang pulang, mengisi botol demi botol, lalu kembali ke masjid.
Air itu menyelamatkan anaknya—setidaknya untuk hari itu.
Ketika banjir mulai surut, Arif dan rombongan kembali ke rumah. Dua malam mereka tidur di loteng, mengais beras yang diselimuti lumpur, memasak mie instan seadanya, sementara rumah sakit tak lagi berfungsi.
Kota Tanpa Hukum, Tanpa Cahaya
Pada Minggu (30/11), putus asa melahirkan pemandangan yang tak diinginkan siapapun: penjarahan di mana-mana. Toko swalayan, toko grosir—semua dijebol demi bertahan hidup.
“Orang sudah tidak mau beli. Mereka ngambil saja,” kata Arif. Harga beras 10 kilogram sempat melonjak ke Rp250.000 sebelum semuanya kehilangan makna.
Lumpur setebal 50 sentimeter menutup jalan. Pohon tumbang, kayu, atap rumah, kendaraan terbalik—semuanya bercampur satu warna. Dan di atas itu, aroma bangkai ternak… dan kemungkinan manusia.
“Orang-orang wajahnya penuh lumpur. Bingung. Seperti kota mati.”
Jalan Keluar yang Ajaib
Di tengah kehancuran, muncul satu titik terang. Suami rekan istrinya tiba-tiba muncul dari luar kota—berjalan kaki tiga hari dari perbatasan Aceh–Sumut, naik perahu ke Kuala Simpang, lalu berjalan kaki sampai rumah Arif. Hanya untuk menjemput keluarganya.
Dari cerita itulah, Arif menemukan harapan.
Ia bersama 15 orang lainnya berjalan ke pasar Kuala Simpang. Mereka mendapat kabar ada jalur laut menggunakan kapal nelayan menuju Pangkalan Susu, Langkat.
Tarifnya Rp150.000 per orang—uang yang tak mereka punya. Mereka meminjam Rp3 juta dari seorang pemilik apotek yang memahami situasi tanpa banyak tanya.
Perjalanan yang mereka tempuh seperti keluar dari zona perang:
jalan sawit, truk, kapal kecil, dan akhirnya… sinyal telepon.
Di Pangkalan Susu, mereka disambut TNI dan polisi, diberi makan dan minum, hingga akhirnya bisa dijemput keluarga menuju Medan.
Sementara Waktu, Bantuan Masih Menembus Jalan
Saat warga berjuang keluar dengan caranya masing-masing, Gubernur Aceh Muzakir Manaf baru berhasil menembus Aceh Tamiang pada Kamis dini hari (04/12), membawa 30 ton bantuan: air minum, beras, mie instan, biskuit, telur, hingga obat-obatan.
Pemerintah pusat menjanjikan percepatan penanganan di Aceh, Sumut, dan Sumbar melalui koordinasi lintas kementerian.
Namun bagi warga seperti Arif, sembilan hari pertama bencana itu akan terus melekat sebagai babak paling mencekam dalam hidup mereka.
Sembilan hari ketika Aceh Tamiang harus bertahan sendiri—di tengah gelap, lumpur, dan keheningan kota yang seolah berhenti bernapas.***
Sumber Berita: BBC Indonesia


























