Serdang Bedagai, Mevin.ID — Genangan banjir yang hampir sepekan melumpuhkan Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, mulai berangsur surut. Namun di dua kecamatan—Seirampah dan Tanjung Beringin—air masih menahan puluhan warga untuk kembali ke rumah mereka.
Wakil Bupati Serdang Bedagai, Adlin Tambunan, saat meninjau lokasi di Seirampah, Jumat (5/12), menegaskan bahwa pemerintah daerah kini memusatkan seluruh fokus ke dua wilayah tersebut. Di kecamatan lain, air telah surut dan aktivitas warga relatif normal.
“Kita fokus di dua kecamatan, Tanjung Beringin dan Seirampah. Kondisi air sudah mulai surut, bantuan seperti sembako, selimut, obat-obatan sudah tersalurkan. Tim medis juga standby,” katanya.
Rindu Rumah yang Masih Terendam
Di tenda pengungsian darurat Seirampah, Yusmawati (72) duduk bersandar pada tikar tipis bersama suaminya, Amir Hamzah (78). Sudah satu minggu mereka tinggal di bawah terpal biru yang menjadi atap sementara.
Awalnya, pasangan lansia itu berusaha tetap bertahan di rumah. Namun air terus merayap naik hingga memaksa mereka keluar pada malam hari.
“Sudah satu minggu mengungsi. Kami tetap bersyukur, di pengungsian semua disediakan pemerintah,” ucap Yusmawati, berusaha tersenyum meski matanya terlihat lelah.
Situasi tak jauh berbeda terlihat di Dusun IV, Desa Pekan Tanjung Beringin. Nurhayati (72) telah seminggu tinggal di sebuah masjid yang dijadikan lokasi pengungsian. Suaranya bergetar ketika bercerita tentang rasa rindu yang sudah tak terbendung.
“Saya sudah rindu pulang. Pingin tidur di rumah, tapi air masih tinggi. Doa kami, musibah ini segera berlalu,” ujarnya.
Banjir Mulai Surut, Kepulangan Masih Menunggu
Pantauan di dua kecamatan terdampak menunjukkan genangan perlahan turun. Namun sejumlah rumah masih terendam, membuat sebagian warga belum dapat kembali.
Bagi mereka yang bertahan di pengungsian, malam-malam terasa panjang dan sunyi. Tidak hanya menunggu air surut, tetapi juga menunggu pulihnya rasa aman yang ikut hanyut oleh derasnya banjir.
Pemerintah memastikan bantuan terus mengalir hingga kondisi benar-benar pulih. Namun bagi warga seperti Yusmawati dan Nurhayati, pulih bukan sekadar turunnya air—melainkan saat mereka dapat kembali menyalakan lampu rumah dan menutup pintu sendiri.***


























