KARAWANG, Mevin.ID – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan pemantauan dan survei pendahuluan terhadap aktivitas bawah tanah di wilayah Kabupaten Karawang.
Langkah ini diambil menyusul adanya indikasi kompleksitas struktur geologi yang berpotensi memicu gempa bumi di kawasan industri strategis tersebut.
Fokus pada Sesar Naik Baribis
Survei ini difokuskan untuk memetakan patahan aktif di wilayah Karawang dan Purwakarta, yang secara regional dipengaruhi oleh sistem Sesar Naik Baribis (back-arc thrust Jawa). Sistem patahan ini dikenal memiliki dinamika tektonik kompleks yang dapat menyebabkan deformasi kerak bumi.
Berdasarkan data Passive Seismic Tomography (PST) dan catatan gempa dari BMKG, aktivitas seismik di wilayah tersebut tidak hanya terpusat pada satu jalur, melainkan tersebar.
Hal ini memicu kekhawatiran adanya segmentasi patahan lain, khususnya di wilayah utara Karawang yang didominasi endapan Kuarter tebal.
Teknologi Canggih untuk Deteksi Bawah Tanah
Kepala Pusat Survei Geologi memantau langsung jalannya survei teknis pada Sabtu (14/2/2026) untuk memastikan efektivitas peralatan. Tim ahli gabungan menggunakan kombinasi metode untuk mendapatkan hasil komprehensif:
- Survei Geologi Permukaan: Akuisisi data langsung di lapangan.
- Ground Penetrating Radar (GPR): Memindai struktur bawah tanah menggunakan gelombang radar.
- Seismik Refleksi: Menganalisis data pantulan gelombang seismik untuk melihat kemungkinan keberadaan patahan aktif di bawah tanah.
Mitigasi untuk Kawasan Industri dan Permukiman
Hasil dari survei ini akan menjadi dasar ilmiah yang krusial bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan mitigasi bencana.
Data yang akurat mengenai karakter deformasi aktif sangat diperlukan untuk perencanaan pembangunan wilayah, khususnya memastikan keamanan infrastruktur di kawasan industri dan permukiman padat di Karawang.
Langkah preventif ini diharapkan dapat meminimalisir risiko geologi yang mungkin tersembunyi di bawah tanah, serta meningkatkan kesiapsiagaan warga terhadap potensi bencana gempa bumi di masa depan.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: CNBC Indonesia


























