DI SEBUAH sudut dapur rumah di Utrecht, Belanda, seorang warga mungkin tidak hanya menyimpan keju dan roti, tetapi juga sebuah kotak kecil berwarna mencolok bertuliskan Noodpakket.
Isinya sederhana: radio bertenaga baterai, senter, air kemasan, dan makanan kaleng. Kotak itu bukan sekadar pajangan, melainkan perwujudan dari sebuah filosofi nasional yang mereka sebut: Denk Vooruit—Berpikir ke Depan.
Kampanye Denk Vooruit yang diinisiasi Pemerintah Belanda bukan sekadar instruksi birokrasi.
Ia adalah pengakuan jujur dari sebuah negara bahwa dalam 72 jam pertama bencana besar—entah itu banjir rob yang menjebol tanggul atau kegagalan sistem siber nasional—pemerintah tidak akan bisa langsung hadir di depan pintu setiap warga.
Dalam jeda waktu kritis itu, nyawa seorang warga bergantung pada satu hal: sejauh mana ia sudah “berpikir ke depan.”
Narasi Ketidaksiapan Kita
Bandingkan pemandangan itu dengan apa yang kita saksikan di tanah air dalam beberapa hari terakhir. Bencana di Sumatera dan terakhir di Kabupaten Sitaro, banjir bandang menerjang saat warga terlelap. Di Limapuluh Kota, sinkhole raksasa tiba-tiba menganga di tengah sawah.
Respons pertama kita hampir selalu sama: kepanikan, ketidakpastian, dan ketergantungan penuh pada tim evakuasi yang seringkali terhambat akses jalan yang terputus.
Kita adalah bangsa yang hidup di atas “cincin api,” namun budaya kesiapsiagaan kita seringkali berhenti pada tataran doa dan pasrah setelah bencana terjadi.
Kita hebat dalam bergotong-royong pasca-kejadian, namun gagap dalam mitigasi pra-kejadian.
Tiga Pilar ‘Denk Vooruit’ untuk Indonesia
Belajar dari Belanda, ada tiga aspek mentalitas Denk Vooruit yang seharusnya bisa kita adopsi ke dalam konteks lokal:
1. 72 Jam Mandiri (Self-Reliance)
Belanda mengedukasi warganya untuk mampu bertahan tanpa bantuan selama tiga hari. Di Indonesia, di mana letak geografis antar desa sering dipisahkan oleh bukit dan sungai, konsep “72 Jam Mandiri” adalah harga mati.
Setiap rumah tangga seharusnya memiliki tas siaga bencana yang isinya bukan sekadar surat berharga, tapi alat bertahan hidup dasar.
2. Radio: Teknologi Tua yang Tak Bisa Mati
Dalam kampanye Denk Vooruit, radio baterai adalah instrumen paling vital. Saat menara BTS roboh dan listrik padam, radio frekuensi rendah adalah satu-satunya jembatan informasi antara otoritas dan rakyat.
Kita terlalu mendewakan smartphone, padahal dalam bencana besar, sinyal adalah hal pertama yang mengkhianati kita.
3. Kejujuran Pemerintah atas Keterbatasan
Pemerintah Belanda secara jujur mengatakan, “Kami tidak bisa menyelamatkan Anda seketika.” Kejujuran ini mendorong warga untuk tidak bersikap manja secara sistemik.
Di kita, narasi pemerintah seringkali terlalu menenangkan hingga membuat masyarakat terlena, seolah-olah semua risiko bisa dimitigasi oleh petugas BPBD.
Bergerak dari Reaktif ke Preventif
Menengok polemik infrastruktur di desa-desa, kita sering lupa bahwa jalan dan jembatan bukan hanya jalur ekonomi, tapi juga jalur penyelamatan. Namun, infrastruktur terbaik sekalipun akan kalah oleh alam jika manusianya tidak memiliki “otak yang bersiap.”
Membangun mentalitas Denk Vooruit di Indonesia berarti mengubah narasi bencana dari sekadar “takdir yang harus diterima” menjadi “risiko yang harus dikelola.”
Kita tidak perlu menunggu menjadi negara maju untuk sekadar menyiapkan senter, baterai cadangan, dan peta jalur evakuasi di laci meja tamu kita.
Bencana banjir di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan terakhir di Sitaro, Limapuluh Kota, hingga ancaman banjir di Jawa Barat adalah lonceng peringatan yang terus berbunyi.
Pertanyaannya, apakah kita akan terus menunggu uluran tangan saat air sudah mencapai dada, atau mulai mengisi “kotak persiapan” kita hari ini?
Belanda sudah lama berhenti mencoba mengalahkan alam; mereka memilih untuk mengenali risikonya dan berpikir melampaui hari ini. Mungkin, sudah saatnya kita juga berhenti sekadar panik dan mulai “Denk Vooruit.”***
Penulis : Bar Bernad


























