BEBERAPA waktu lalu, jagat maya dihebohkan oleh rekaman video yang menyayat hati: banjir bandang dengan arus cokelat pekat yang tidak hanya membawa lumpur, tetapi juga tumpukan masif kayu gelondongan.
Peristiwa tragis di Sumatera Utara dan beberapa wilayah lain di Indonesia ini, di mana kayu-kayu besar hanyut di permukaan air bah, menjadi sorotan tajam.
Fenomena ini bukan sekadar indikasi besarnya volume air, tetapi sebuah bukti visual yang tak terbantahkan bahwa bencana hidrometeorologi telah diperburuk oleh satu faktor krusial: rusaknya benteng pertahanan alami kita, yakni hutan.
Inilah wajah nyata dari akibat hilangnya pohon. Kalimat bijak “Menanam Pohon, Menanam Kehidupan” kini bergema sebagai peringatan yang mendesak, sebab laju deforestasi telah meruntuhkan pertahanan alam, mengubah hujan biasa menjadi malapetaka, dan mengancam nyawa.
Lihat postingan ini di Instagram
Pohon: Jantung Ekosistem dan Arsitek Stabilitas
Secara biologis, peran pohon tidak tergantikan. Mereka adalah pabrik oksigen, penyerap karbon dioksida (CO_2), dan elemen penting dalam melawan krisis iklim. Lebih dari itu, hutan adalah arsitek stabilitas hidrologi.
Pohon dan hutan berfungsi sebagai sistem mitigasi bencana alami yang komprehensif:
- Pengatur Air: Kanopi pohon menahan air hujan, dan perakaran menciptakan pori-pori yang meningkatkan infiltrasi (penyerapan) air ke dalam tanah, mengisi cadangan air, dan memperlambat aliran permukaan.
- Perekat Tanah: Jaringan akar yang kuat bertindak sebagai perekat alami yang mengikat partikel-partikel tanah, memberikan kekuatan geser (shear strength) dan menahan lereng dari keruntuhan.
Deforestasi: Hilangnya Mitigasi, Datangnya Bencana
Ketika video viral menunjukkan kayu gelondongan hanyut, itu adalah sinyal jelas adanya penebangan pohon (deforestasi) yang masif dan seringkali ilegal di wilayah hulu.
Penghilangan pohon, terutama di daerah resapan air dan lereng curam, menghilangkan tiga fungsi perlindungan vital, secara langsung meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana:
- Peningkatan Risiko Banjir dan Banjir Bandang
Hutan yang ditebang kehilangan kemampuannya menyerap air seperti spons. Air hujan yang seharusnya diinfiltrasi ke dalam tanah kini menjadi aliran permukaan (surface runoff) yang cepat.
- Air tidak lagi tertahan kanopi; ia langsung menghantam tanah gundul.
- Tanah kehilangan struktur akar, sehingga infiltrasi menurun drastis.
- Air meluncur deras dengan kecepatan tinggi, mengangkut material tanah yang tererosi, dan meningkatkan debit sungai secara ekstrem, memicu banjir bandang yang destruktif.
- Material kayu gelondongan yang hanyut bukan hanya memperburuk banjir, tetapi juga menghantam dan meruntuhkan infrastruktur serta rumah-rumah di hilir, memperparah kerusakan dan kerugian jiwa.
- Peningkatan Risiko Tanah Longsor
Di lereng bukit, akar pohon adalah satu-satunya benteng yang menjaga massa tanah tetap stabil. Ketika pohon ditebang:
- Tanah kehilangan penopang struktural yang vital.
- Ketiadaan pohon menyebabkan tanah menjadi sangat jenuh air saat hujan (karena tidak ada transpirasi yang menyerap air berlebih).
- Tanah yang kelebihan air dan kehilangan daya cengkeram akan runtuh akibat gravitasi, memicu tanah longsor yang bergerak cepat dan mematikan.
Panggilan Aksi: Menanam Pohon, Membangun Ketahanan
Peristiwa banjir bandang yang membawa tumpukan kayu gelondongan adalah sebuah peringatan keras.
Ini adalah konsekuensi dari mentalitas jangka pendek yang mengutamakan keuntungan sesaat dari hasil penebangan, dibandingkan dengan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan hidup.
Oleh karena itu, tindakan “Menanam Pohon, Menanam Kehidupan” harus diinternalisasi sebagai investasi langsung pada keselamatan dan ketahanan komunitas terhadap bencana.
Ini adalah tugas kolektif: bukan hanya menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap illegal logging, tetapi juga melakukan reboisasi di lahan-lahan kritis.
Setiap bibit yang ditanam hari ini adalah penambahan kekuatan pada jaringan akar yang menahan longsor.
Setiap pohon yang kita lindungi adalah peningkatan kapasitas bumi untuk menyerap air dan mencegah banjir. Dengan merawat pohon, kita bukan hanya menumbuhkan kayu, tetapi secara fundamental, kita membangun kembali benteng alami, merawat kehidupan, dan mengamankan masa depan dari ancaman bencana yang terus mengintai.
Selamat Hari Menanam Pohon Indonesia 28 November 2025, Menanam Pohon Menanam Kehidupan.***
Iwan Sutanto, SP, Ketua Asosiasi Produsen Pengedar Benih Hortikultura
Penulis : Iwan Sutanto


























