MAKASSAR, Mevin.ID – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah membawa kedua perangkat black box pesawat ATR 42-500 PK-THT ke Jakarta untuk memulai investigasi mendalam.
Kotak hitam yang berhasil ditemukan di lokasi ekstrem Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dilaporkan dalam kondisi fisik yang baik.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, pemeriksaan terhadap Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) akan segera dimulai.
“Hari ini dibawa ke Jakarta, besok kita mulai. Hasilnya bisa kami perkirakan dalam lima sampai enam hari ke depan, jika tidak ada kendala teknis,” ujar Soerjanto di Kantor Basarnas Makassar, Kamis (22/1/2026).
Dua perangkat kunci ini diharapkan dapat mengungkap kronologi pasti sebelum pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu menabrak gunung.
Data Krusial dari CVR dan FDR
Soerjanto menjelaskan, CVR memiliki empat saluran yang merekam berbagai percakapan dan suara di kokpit.
Saluran tersebut merekam komunikasi pilot dengan Air Traffic Control (ATC), percakapan antar-pilot, komunikasi kokpit ke kabin, serta seluruh suara lingkungan di dalam kokpit.
Sementara itu, FDR menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan teknis, seperti ketinggian, kecepatan, dan kondisi mesin.
“Semua data ini akan membantu kami mengetahui secara akurat apa yang terjadi pada pesawat sebelum kecelakaan,” tegasnya.
Tujuan Investigasi
Soerjanto menekankan bahwa tujuan utama investigasi KNKT adalah untuk mendapatkan lesson learned atau pembelajaran guna mencegah terulangnya kecelakaan serupa di masa depan. Hasil investigasi akan berupa laporan lengkap dan rekomendasi keselamatan.
“Jika dalam proses kami memandang perlu adanya rekomendasi segera, KNKT akan mengeluarkannya tanpa menunggu laporan akhir,” tambahnya.
Ia mengapresiasi kerja keras Tim SAR yang berhasil menemukan black box di medan yang sangat ekstrem sebelum operasi pencarian berakhir.
Soerjanto juga menjelaskan mengapa perangkat yang disebut ‘kotak hitam’ justru berwarna oranye terang.
“Ini untuk memudahkan pencarian di lokasi kecelakaan,” ujarnya.
Dengan ditemukannya kedua black box, KNKT optimistis dapat mengungkap penyebab kecelakaan secara objektif dan berbasis data, bukan sekadar dugaan atau perkiraan.
Investigasi ini menjadi langkah krusial untuk menjawab berbagai pertanyaan publik dan keluarga korban mengenai musibah yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat tersebut.***
Editor : Atep K


























