BMKG Imbau Masyarakat dan Sektor Terkait Antisipasi Musim Kemarau 2025

- Redaksi

Kamis, 13 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dslam konferensi pers prediksi musim kemarau 2025 di Jakarta, Kamis (13/3/2025) (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Tangkapan layar - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dslam konferensi pers prediksi musim kemarau 2025 di Jakarta, Kamis (13/3/2025) (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Jakarta, Mevin.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat dan berbagai sektor untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang diprediksi dimulai pada Mei 2025. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2025.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (13/3), menyatakan bahwa meskipun musim kemarau belum dimulai, peringatan dini telah diberikan agar langkah antisipasi dapat dilakukan sejak dini.

“Mulai Mei, kita sudah harus waspada. Oleh karena itu, sejak Maret ini, berbagai sektor diharapkan menyesuaikan diri. Misalnya, sektor pertanian dapat mengatur jadwal tanam agar produktivitas tidak terganggu. Sektor kebencanaan juga perlu mempersiapkan langkah mitigasi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, terutama saat puncak kemarau pada Juni hingga Agustus,” ujar Dwikorita.

Pentingnya Menjaga Sumber Daya Air

Dwikorita menekankan pentingnya menjaga sumber daya air menjelang musim kemarau. “Mumpung masih ada hujan, perlu dilakukan langkah-langkah persiapan menuju musim kemarau untuk mencegah dampak yang lebih besar,” katanya.

Prediksi Curah Hujan Musim Kemarau 2025

BMKG memprediksi variasi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia selama musim kemarau 2025:

  • April 2025: Curah hujan umumnya berada pada kategori menengah-tinggi. Beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan diprediksi mengalami curah hujan sangat tinggi (>500 mm/bulan).
  • Mei 2025: Curah hujan umumnya rendah-menengah. Wilayah dengan potensi curah hujan tinggi meliputi sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
  • Juni–Juli 2025: Curah hujan diprediksi rendah-menengah untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

BMKG memperingatkan bahwa Juli 2025 akan menjadi awal musim kemarau monsunal di beberapa wilayah, dengan peningkatan intensitas dan perluasan wilayah terdampak.

Wilayah seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi memiliki potensi kemunculan hotspot yang cukup tinggi.

“Dari akhir Juli hingga Agustus, terdapat kecenderungan peningkatan potensi karhutla di Sumatera bagian selatan dan perluasan area terdampak di Kalimantan bagian selatan,” jelas Dwikorita.

Sumatera Selatan diprediksi memiliki wilayah dengan kelas risiko karhutla paling luas, sementara Riau tetap berada dalam kategori risiko tinggi. Selain itu, wilayah Nusa Tenggara, sebagian kecil Jawa, dan Papua bagian selatan juga diproyeksikan rawan karhutla pada Agustus 2025.

Imbauan untuk Masyarakat dan Pemerintah Daerah
BMKG berharap informasi ini dapat menjadi panduan bagi masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengambil langkah-langkah antisipatif. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Sektor Pertanian: Mengatur jadwal tanam dan memastikan ketersediaan air irigasi.
  2. Sektor Kebencanaan: Mempersiapkan langkah mitigasi untuk mencegah karhutla, seperti pemantauan hotspot dan penyiapan alat pemadam kebakaran.
  3. Masyarakat Umum: Menghemat penggunaan air dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah kekeringan dan kebakaran.

“Kami berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk mengurangi dampak musim kemarau terhadap lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Dwikorita.

Dengan persiapan yang matang, diharapkan Indonesia dapat menghadapi musim kemarau 2025 dengan lebih baik dan meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tangis Pilu di Ruang MK: Anak Wartawan Eva Pasaribu Pertanyakan Keterbukaan Hukum Kasus Oknum TNI
Alasan KPK Seret Ono Surono dalam Kasus Korupsi Bupati Bekasi
KLH Gugat Rp4,8 Triliun ke 6 Perusahaan Penyebab Banjir Sumut
KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara
BMKG Tetapkan Status Awas, 3 Provinsi Ini Berpotensi Hujan Lebat & Banjir
KPK Tegaskan Punya Bukti Ketua PBNU Kasus Korupsi Kuota Haji
Kasus Korupsi Ade Kunang, Benarkah KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono? 
BPOM Tarik Susu Formula Nestle S-26, Waspadai Potensi Toksin Cereulide yang Tahan Panas

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 07:32 WIB

Tangis Pilu di Ruang MK: Anak Wartawan Eva Pasaribu Pertanyakan Keterbukaan Hukum Kasus Oknum TNI

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:00 WIB

KLH Gugat Rp4,8 Triliun ke 6 Perusahaan Penyebab Banjir Sumut

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:40 WIB

KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:13 WIB

BMKG Tetapkan Status Awas, 3 Provinsi Ini Berpotensi Hujan Lebat & Banjir

Kamis, 15 Januari 2026 - 13:00 WIB

KPK Tegaskan Punya Bukti Ketua PBNU Kasus Korupsi Kuota Haji

Berita Terbaru