JAKARTA, Mevin.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait karakteristik musim kemarau tahun 2026.
Berdasarkan hasil analisis terbaru, musim kemarau tahun ini diprediksi akan datang lebih awal dari biasanya dan memiliki durasi yang lebih panjang.
Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa sekitar 46,5 persen atau 325 zona musim di Indonesia akan mengalami awal kemarau yang lebih maju dibandingkan waktu normalnya.
Penyebab dan Jadwal Dimulainya Kemarau
Perubahan pola musim ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah yang telah berlangsung sejak Oktober 2025.
Dengan berakhirnya fenomena tersebut pada Februari 2026, atmosfer Indonesia mulai beralih ke kondisi yang lebih kering.
Berikut adalah jadwal masuknya musim kemarau menurut zona musim (ZOM):
- April 2026: Dimulai di 114 ZOM (16,3%), mencakup sebagian besar wilayah Indonesia.
- Mei 2026: Menyusul di 184 ZOM (26,3%).
- Juni 2026: Meluas ke 163 ZOM (23,3%).
“Musim kemarau akan diawali dari wilayah Nusa Tenggara dan bergerak secara bertahap ke arah barat mencakup wilayah Indonesia lainnya,” ujar Faisal Fathani dalam konferensi pers, Rabu (4/3/2026).
Kemarau Lebih Kering dan Lebih Panjang
Masyarakat diminta waspada karena sifat kemarau tahun ini diproyeksikan lebih kering dari biasanya. Sebanyak 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah kategori normal. Selain itu, durasi kemarau juga akan lebih lama (lebih panjang) dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Waspada 3 Bibit Siklon di Awal Maret
Meski kemarau segera mengintai, BMKG mengingatkan bahwa saat ini (awal Maret 2026) masih terdapat tiga bibit siklon tropis yang aktif di sekitar wilayah Indonesia:
- Bibit Siklon 90S: Samudra Hindia selatan Banten–Jawa Barat (berpeluang besar menjadi siklon dalam 24-48 jam).
- Bibit Siklon 93S: Barat laut daratan Australia.
- Bibit Siklon 92P: Teluk Carpentaria, selatan Papua Selatan.
Sistem cuaca ini masih berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa hingga Nusa Tenggara dalam beberapa hari ke depan.
BMKG berharap informasi ini menjadi rujukan bagi sektor pertanian, sumber daya air, dan energi untuk menyusun langkah mitigasi guna menghadapi periode kering yang lebih panjang di tahun 2026.***
Editor : Bar Bernad


























