JAKARTA, Mevin.ID – Rencana besar BUMN Agrinas Pangan Nusantara mendatangkan ratusan ribu unit pikap asal India untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menuai kritik tajam.
Bukan soal harga, melainkan ketidakcocokan teknologi mesin Euro 6 milik India dengan kualitas bahan bakar diesel di pelosok Indonesia.
Pakar otomotif memperingatkan bahwa pengadaan senilai Rp24,66 triliun ini bisa menjadi “bom waktu” operasional yang justru melumpuhkan distribusi pangan nasional.
Benturan Teknologi: Standar India vs Realita Indonesia
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa kendaraan niaga asal India seperti Mahindra Scorpio dan Tata Yodha umumnya sudah mengadopsi standar emisi BS-VI (setara Euro 6).
Masalahnya, mesin Euro 6 sangat presisi dan membutuhkan solar murni dengan kandungan sulfur maksimal 10 ppm.
Sementara itu, bahan bakar diesel yang paling tersedia di Indonesia, yakni Biosolar B40, masih memiliki kandungan sulfur maksimal 50 ppm dan tinggi akan asam lemak serta air.
“Mesin India itu spesifikasi Euro 6 yang butuh solar murni. Sangat berpotensi tidak kompatibel dengan Biodiesel B40 kita. Jika dipaksakan tanpa penyesuaian, ini akan jadi bom waktu operasional,” tegas Yannes, Rabu (25/2).
Efisiensi Harga yang Semu?
Agrinas mengklaim pemilihan merek India seperti Mahindra dan Tata Motors dilakukan karena harga beli (CAPEX) yang lebih murah dan tangguh di medan berat. Namun, keuntungan itu diprediksi akan ludes ditelan oleh biaya perawatan (OPEX) yang membengkak.
Ketidakcocokan bahan bakar akan mempercepat kerusakan komponen mesin yang mahal, sementara ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual merek-merek tersebut belum merata hingga ke pelosok desa.
Daftar Impor Massal Agrinas:
Berdasarkan data yang dihimpun, total pengadaan mencapai 105.000 unit kendaraan CBU (impor utuh), meliputi:
- 35.000 unit Mahindra Scorpio Pikap 4×4.
- 35.000 unit Tata Yodha 4×4.
- 35.000 unit Truk Tata Ultra T.7 (roda enam).
Saat ini, sekitar 200 unit gelombang pertama sudah tiba di tanah air.
Poin Kritis yang Perlu Diwaspadai:
- Risiko Mesin Jebol: Penggunaan B40 pada mesin Euro 6 tanpa modifikasi berisiko merusak sistem injeksi dan filter udara.
- Krisis Suku Cadang: Belum ada jaringan bengkel resmi yang kuat di tingkat kecamatan atau desa tempat koperasi beroperasi.
- Sorotan KPK: Besarnya nilai kontrak dan skema impor utuh (CBU) kini mulai masuk dalam radar pengawasan lembaga antirasuah.
Jika pemerintah tetap memaksakan penggunaan unit ini tanpa jaminan ketersediaan bahan bakar yang sesuai atau modifikasi mesin yang mumpuni, efisiensi distribusi pangan yang dicita-citakan Koperasi Merah Putih terancam gagal total.***
Editor : Bar Bernad


























