Jakarta, Mevin.ID – Pernyataan Apindo soal hampir 67 persen pengangguran berasal dari Gen Z bukan sekadar statistik. Itu tanda bahwa Indonesia belum benar-benar siap memanen bonus demografi yang selama ini dibanggakan dalam pidato pejabat dan strategi pembangunan.
Harapan tentang mesin pertumbuhan baru tersendat di pintu masuk dunia kerja.
Selama ini narasi publik sering menyudutkan anak muda: “pilih kerjaan”, “maunya gaji besar”, “tak mau proses”.
Data terbaru justru menunjukkan akar persoalan ada pada struktur ekonomi yang makin sempit menyediakan kerja layak. Mayoritas pertumbuhan pekerjaan justru datang dari sektor informal dengan jaminan minim.
Investasi besar pun tidak otomatis menciptakan lapangan kerja seperti dulu. Digitalisasi membuat penyerapannya turun drastis. Satu triliun rupiah yang dulu menciptakan ribuan posisi, kini hanya seribuan. Industri makin padat modal, bukan padat karya.
Jika tren ini dibiarkan, gagalnya regenerasi tenaga kerja formal akan memukul produktivitas jangka panjang. Indonesia bisa kehilangan momentum untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi, karena generasi mudanya terjebak dalam pekerjaan tanpa proteksi dan tanpa jenjang karier.
Masalahnya bukan hanya “Gen Z menganggur”, melainkan ekosistem ketenagakerjaan yang belum bertransformasi.
Pemerintah dan dunia usaha perlu mendesain ulang strategi penciptaan kerja: memperluas industri padat karya berteknologi menengah, menata hubungan gig economy, serta memperkuat vokasi berbasis kebutuhan industri nyata.
Bonus demografi adalah jendela kesempatan yang hanya terbuka sesaat. Ketika 67 persen angkatan kerja muda tak menemukan akses ke dunia kerja formal, masa depan ekonomi ikut terancam.***


























