TEHERAN, Mevin.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai babak baru yang semakin menegangkan. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal internasional.
Menurut laporan dari pejabat misi kelautan Uni Eropa, Aspides, yang dikutip oleh Reuters pada Sabtu (28/2/2026), seluruh kapal yang berada di kawasan tersebut menerima pesan siaran dari IRGC. Pesan tersebut menegaskan bahwa, “tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz”.
Langkah drastis ini diambil Iran sebagai bagian dari gelombang serangan balasan terhadap agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Jalur Vital Minyak Dunia
Penutupan Selat Hormuz merupakan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Selat ini dikenal sebagai salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.
Data menunjukkan, lebih dari 21 juta barel minyak melintas melalui selat ini setiap harinya, yang mencakup sekitar 37 persen dari lalu lintas perdagangan minyak laut dunia. Penutupan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah secara global.
Iran Klaim Dominasi Penuh
Sebelumnya, pejabat militer Iran menegaskan dominasi penuh mereka atas selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.
Iran mengklaim memiliki jaringan rudal bawah tanah yang mampu melacak dan menghancurkan kapal-kapal yang mengancam keamanan wilayah mereka, termasuk kapal-kapal AS yang beroperasi di kawasan tersebut.
Tensi semakin tinggi setelah diketahui Iran juga memiliki jaringan rudal penjelajah dengan jangkauan hingga 1.000 kilometer yang siap diluncurkan dari fasilitas bawah tanah.***
Editor : Bar Bernad


























