Sidoarjo, Mevin.ID – Pendekatan Budaya dalam dakwah agama Islam, sangat efektif dalam dakwah mengamalkan ajaran Islam Rahmatil Lil Alamin (Islam yang Damai,Red) itulah yang selama dilakukan umat Islam di Pedukuhan Jadikan, Ds Grabagan, Tulangan, Sidoarjo.
Warga disini jika ada wafat atau meninggal dunia, selama kegiatan doa’ Yasinan dilakukan selama tujuh hari. Para tetangga, teman kerja tuan rumah dari bergai penjuru Kabupaten Sidoarjo, selalu datang dengan membawah makanan dan minuman untuk hidangan.
LAZISNU Desa Grabagan bekerja sama dengan BUMDes Desa Grabagan juga ikut membantu keluarga yang sedang berduka.
Artinya di Desa sini, rangkaian acara ruwatan dari berbagai persiapan, hingga acara hati ini. Didukung penuh oleh para pemuda-pemudi.
Dari mulai pengajian akbar, pengajian di makam leluhur pedukuhan setiap tahunnya diidukung oleh semua warganya. Seusai acara doa’ dimakam Mbah Windu akan dilanjutkan dengan acara kesenian Campur Sari.
Carik Desa Grabagan Mochamad Topan dalam sambutannya berharap doa’ dan hajar kita semua agar di qobul Allah SWT.
Baca Juga : Umat Islam Harus Berbuat Baik Dengan Seluruh Mahluk dan Alam Semesta
Sebagaimana sudah diberitakan KH.Subradus Sholeh dalam ceramah agama Islam semalam menceritakan sejarah perjuangan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa dan Bumi Nusantara dalam dengan menggunakan kesenian Wayang sebagai budaya sarana dakwah Agama Islam. Wayang digunakan oleh para Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Bumi Nusantara.
Allah SWT bukan hanya diwajibkan kita semua berbuat baik kepada sesama manusia, tetapi juga wajib berbuat baik dengan semua yang ada di alam semesta.
Termasuk baik dengan mahluk binatang. Karena semua mahluk yang disakiti oleh manusia, nanti pada hari Kiamat, akan mengadu kepada Allah SWT.
Karena itu kita semua umat Islam harus selalu berbuat baik dengan semua mahluk, termasuk ketika binatang akan disembelih harus dengan membaca Sholawat dan Asma Allah, hal ini juga bagian dari dakwah para Walisongo ketika menyebarkan agama Islam di Indonesia,”pesan Kiai Subradus Sholeh. ***
Penulis : Pratigto


























