INDONESIA tengah menyaksikan pergeseran penting dalam sistem pangannya. Ketika Perum Bulog mencatat rekor serapan beras domestik sebesar 2,69 juta ton hingga Juli 2025—nyaris dua kali lipat dari 1,27 juta ton sepanjang tahun 2024—masyarakat masih menghadapi masalah kronis: pengoplosan beras, ketidakpastian mutu, dan distribusi yang tidak adil.
Sistem pangan nasional memiliki kapasitas teknis, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan produsen utama: petani.
Di sinilah gagasan strategis muncul: transformasi Bulog menjadi koperasi nasional petani padi, mereplikasi model sukses seperti CHS (Amerika Serikat), Zen-Noh (Jepang), Nonghyup (Korea Selatan).
Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Indonesia bisa mengambil sebagai bahan pembelajaran dari koperasi di negara maju tersebut dengan menerapkan pada gagasan integrasi Bulog dan Koperasi Petani Padi sebagaimana diuraikan berikut.
Belajar dari CHS, Zen-Noh, Nonghyup
| Koperasi/Lembaga | Negara | Revenue (2024) | Fungsi Utama |
| CHS | Amerika Serikat | USD 39.3 miliar | Energi, biji-bijian, ekspor, logistik |
| Zen-Noh | Jepang | USD 66,6 miliar | Distribusi, teknologi, ekspor |
| Nonghyup | Korea Selatan | ±USD 8,3 miliar | Perbankan, retail, asuransi, advokasi kebijakan |
| Perum Bulog Indonesia | ±USD 3,9 miliar | Indonesia | ±USD 3,9 miliar
|
L |
Simulasi Bisnis Bulog–Koperasi Petani Padi
Jika Bulog bergabung dengan 2 juta petani padi, masing-masing mengelola 0,5 hektar:
- Produksi gabah: ±5 juta ton/tahun
- Produksi beras: ±3,125 juta ton
- Harga jual beras: Rp10.000/kg
- Revenue koperasi tahunan: ±Rp31,25 triliun
- SHU per petani padi: ±Rp937.500/tahun
Dengan model terintegrasi seperti referensi global di atas, koperasi dapat memperluas fungsi: penggilingan, e-commerce, branding beras premium, dan pembiayaan. SHU per petani bisa meningkat hingga Rp2–2,5 juta per tahun, di luar pendapatan utama dari gabah.
Struktur Terintegrasi: Vertikal & Horizontal
- Vertikal: Petani terlibat dari penyediaan lahan, benih, budidaya, penggilingan, hingga penjualan (seperti di KDMP dan Zen-Noh).
- Horizontal: Koperasi menyediakan kredit mikro, proteksi asuransi, dan akses pasar lokal atau ekspor (meniru Nonghyup dan CHS).
- Digitalisasi & retail lokal: Persyaratan kesuksesan koperasi pada era digital. Kredit union Keling Kumang di Sekadau, Kalimantan Barat dapat dijadikan referensi koperasi yang sudah sampai pada tahap digitalisasi manajemen 230.000 anggota (72 % sebagai profesi petani) dengan aset Rp 2.23 triliun.
Integrasi ini menekan biaya, meningkatkan mutu, dan memastikan bahwa nilai tambah dinikmati oleh petani secara langsung.
***
Integrasi Bulog dan Petani Padi sebagai Satu Model Integrasi Vertikal KDMP Skala Koperasi Nasional
Apa yang dimulai oleh KDMP di tingkat desa dapat menjadi prototipe kebijakan nasional. Ketika Bulog dan petani menyatu dalam sistem koperasi besar, Indonesia akan memiliki ekosistem pangan yang:
- Dikuasai oleh komunitas produsen
- Menjamin hak dan kesejahteraan petani
- Melindungi konsumen dari ketidakjujuran pasar
- Mendorong beras Indonesia masuk pasar global secara bermartabat
Pangan tidak boleh hanya jadi komoditas. Ia harus menjadi hak rakyat, dikelola kolektif, dan diselenggarakan dengan transparansi. Saatnya Indonesia mengadopsi koperasi sebagai arsitektur masa depan pangannya.***
Agus Pakpahan adalah Rektor Ikopin University, Pakar Ekonomi Kelembagaan.


























