Bulog Berbasis Koperasi Petani Padi: Jalan Baru Kedaulatan Pangan Indonesia

- Redaksi

Rabu, 16 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agus Pakpahan Rektor IKOPIN University, Professor of Agricultural Economics (Emeritus), Ministry of Agriculture - ‪‪Cited by 729‬‬ - ‪Economics of Agriculture and Organic Wastes Bioconversion

Agus Pakpahan Rektor IKOPIN University, Professor of Agricultural Economics (Emeritus), Ministry of Agriculture - ‪‪Cited by 729‬‬ - ‪Economics of Agriculture and Organic Wastes Bioconversion

INDONESIA tengah menyaksikan pergeseran penting dalam sistem pangannya. Ketika Perum Bulog mencatat rekor serapan beras domestik sebesar 2,69 juta ton hingga Juli 2025—nyaris dua kali lipat dari 1,27 juta ton sepanjang tahun 2024—masyarakat masih menghadapi masalah kronis: pengoplosan beras, ketidakpastian mutu, dan distribusi yang tidak adil.

Sistem pangan nasional memiliki kapasitas teknis, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan produsen utama: petani.

Di sinilah gagasan strategis muncul: transformasi Bulog menjadi koperasi nasional petani padi, mereplikasi model sukses seperti CHS (Amerika Serikat), Zen-Noh (Jepang), Nonghyup (Korea Selatan).

Pengembangan  Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Indonesia bisa mengambil sebagai bahan pembelajaran dari koperasi di negara maju tersebut dengan menerapkan pada gagasan integrasi Bulog dan Koperasi Petani Padi sebagaimana diuraikan berikut.

Belajar dari CHS, Zen-Noh, Nonghyup

Koperasi/Lembaga Negara Revenue (2024) Fungsi Utama
CHS Amerika Serikat USD 39.3 miliar Energi, biji-bijian, ekspor, logistik
Zen-Noh Jepang USD 66,6 miliar Distribusi, teknologi, ekspor
Nonghyup Korea Selatan ±USD 8,3 miliar Perbankan, retail, asuransi, advokasi kebijakan
Perum Bulog            Indonesia        | ±USD 3,9 miliar Indonesia ±USD 3,9 miliar

 

 L

Simulasi Bisnis Bulog–Koperasi Petani Padi

Jika Bulog bergabung dengan 2 juta petani padi, masing-masing mengelola 0,5 hektar:

  • Produksi gabah: ±5 juta ton/tahun
  • Produksi beras: ±3,125 juta ton
  • Harga jual beras: Rp10.000/kg
  • Revenue koperasi tahunan: ±Rp31,25 triliun
  • SHU per petani padi: ±Rp937.500/tahun

Dengan model terintegrasi seperti referensi global di atas, koperasi dapat memperluas fungsi: penggilingan, e-commerce, branding beras premium, dan pembiayaan. SHU per petani bisa meningkat hingga Rp2–2,5 juta per tahun, di luar pendapatan utama dari gabah.

Struktur Terintegrasi: Vertikal & Horizontal

  • Vertikal: Petani terlibat dari penyediaan lahan, benih, budidaya, penggilingan, hingga penjualan (seperti di KDMP dan Zen-Noh).
  • Horizontal: Koperasi menyediakan kredit mikro, proteksi asuransi, dan akses pasar lokal atau ekspor (meniru Nonghyup dan CHS).
  • Digitalisasi & retail lokal: Persyaratan kesuksesan koperasi pada era digital. Kredit union Keling Kumang di Sekadau, Kalimantan Barat dapat dijadikan referensi koperasi yang sudah sampai pada tahap digitalisasi manajemen 230.000 anggota (72 % sebagai profesi petani) dengan aset Rp 2.23 triliun.

Integrasi ini menekan biaya, meningkatkan mutu, dan memastikan bahwa nilai tambah dinikmati oleh petani secara langsung.

***

Integrasi Bulog dan Petani Padi sebagai Satu Model Integrasi Vertikal KDMP Skala Koperasi Nasional

Apa yang dimulai oleh KDMP di tingkat desa dapat menjadi prototipe kebijakan nasional. Ketika Bulog dan petani menyatu dalam sistem koperasi besar, Indonesia akan memiliki ekosistem pangan yang:

  • Dikuasai oleh komunitas produsen
  • Menjamin hak dan kesejahteraan petani
  • Melindungi konsumen dari ketidakjujuran pasar
  • Mendorong beras Indonesia masuk pasar global secara bermartabat

Pangan tidak boleh hanya jadi komoditas. Ia harus menjadi hak rakyat, dikelola kolektif, dan diselenggarakan dengan transparansi. Saatnya Indonesia mengadopsi koperasi sebagai arsitektur masa depan pangannya.***

Agus Pakpahan adalah Rektor Ikopin University, Pakar Ekonomi Kelembagaan.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah “Pabrik Nilai” yang Mematikan: Menggugat Absensi Kemanusiaan dalam Krisis Mental Pelajar Jawa Barat
Kisah Inspiratif Diah Maria Asih: Jual Rumah Demi SLB, Izinkan Siswa Berkebutuhan Khusus Bayar Semampunya
Nyawa Anak-Anak Kita dan Darurat Mental yang Terabaikan
Reformasi Data PBI Jangan Sampai Mengurangi Perlindungan Rakyat Kecil
Milyarder di Balik Lapak Kangkung: Kisah Chen Shu-chu yang Menampar Logika Dunia
Saling Tuding Soal Nasib Rakyat: Benarkah Presiden Perintahkan Hapus 11 Juta Peserta BPJS?
Alarm Berbunyi Saat Ekonomi Terlihat Kuat: Sinyal Bahaya dari Moody’s
Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 09:33 WIB

Membedah “Pabrik Nilai” yang Mematikan: Menggugat Absensi Kemanusiaan dalam Krisis Mental Pelajar Jawa Barat

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:36 WIB

Kisah Inspiratif Diah Maria Asih: Jual Rumah Demi SLB, Izinkan Siswa Berkebutuhan Khusus Bayar Semampunya

Minggu, 15 Februari 2026 - 09:27 WIB

Nyawa Anak-Anak Kita dan Darurat Mental yang Terabaikan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 22:48 WIB

Reformasi Data PBI Jangan Sampai Mengurangi Perlindungan Rakyat Kecil

Sabtu, 14 Februari 2026 - 16:56 WIB

Milyarder di Balik Lapak Kangkung: Kisah Chen Shu-chu yang Menampar Logika Dunia

Berita Terbaru