BANDUNG, Mevin.ID – Kondisi lingkungan di Cekungan Bandung berada dalam titik nadir.
Alih fungsi lahan yang tak terkendali selama puluhan tahun disebut telah merusak tatanan alam, mengubah hutan pelindung menjadi lahan produksi dan pemukiman yang memicu ancaman bencana permanen.
Pakar geografi dan peneliti Cekungan Bandung, Titi Bachtiar, mengungkapkan keprihatinannya atas perubahan drastis yang terjadi sejak tahun 1970-an.
Menurutnya, kerusakan Bandung dimulai dari transisi hutan alami menjadi hutan produksi (pinus), yang kemudian berlanjut menjadi lahan perkebunan sayur di lereng-lereng curam.
Hilangnya “Top Soil” dan Ancaman Tanah Tandus
Titi menjelaskan bahwa alih fungsi lahan menjadi kebun sayur di area lereng adalah kesalahan fatal. Setiap tahun, lapisan tanah subur (top soil) hanyut terbawa air sungai karena tidak adanya akar pohon kuat yang mengikat tanah.
“Diproyeksikan beberapa tahun kemudian, itu tinggal batu di bawahnya. Ketika tanah subur sudah berpindah ke dasar sungai dan danau, pupuk buatan menjadi pilihan terakhir, dan itu akan membuat tanah semakin hancur,” ujar penulis buku Bandung Purba tersebut, Senin (19/1/2026).
Ancaman Dua Krisis Besar: Air dan Lingkungan
Dampak dari kerusakan ini bukan lagi sekadar isu estetika, melainkan ancaman keberlangsungan hidup warga Bandung. Titi memprediksi akan ada dua krisis besar yang menghantam:
- Krisis Air: Resapan air yang minim membuat cadangan air tanah merosot tajam.
- Krisis Lingkungan: Siklus banjir lumpur saat musim hujan dan kekeringan ekstrem saat musim kemarau akan terus berulang secara masif.
“Ketika musim hujan banjir besar membawa lumpur, ketika kemarau itu kekeringan. Itu akan berulang setiap waktu di Cekungan Bandung,” tegasnya.
Negara Diminta “Hadir” Ambil Alih Lereng
Melihat masifnya kerusakan, Titi mendesak otoritas negara untuk segera melakukan pemetaan ulang dan mengambil alih kembali lahan-lahan negara yang kini telah berubah fungsi.
Ia menekankan bahwa aturan kemiringan lereng harus ditegakkan. Lahan di kemiringan tertentu haram hukumnya menjadi kebun sayur.
Solusi satu-satunya adalah menanam kembali pohon alami atau pohon produktif (buah/bunga) yang tidak untuk ditebang guna menjaga stabilitas tanah dan serapan air.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Pikiran Rakyat

























