PERNYATAAN Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahwa sifat serakah bukan hanya milik politisi korup melainkan juga melekat pada rakyat kecil, memang terdengar menohok.
Di seminar Universitas Padjadjaran, ia terang-terangan mengatakan, “Bibit korupsi ada di semua lapisan masyarakat, hanya berbeda skala kekuasaan.”
Banyak yang tersinggung, sebagian marah. Bagaimana mungkin rakyat yang setiap hari menjerit harga beras dan listrik disamakan dengan politisi yang gajinya puluhan juta?
Namun jika kita berhenti sebentar dari amarah, ucapan Dedi justru membuka ruang refleksi yang dalam: apakah benar korupsi hanyalah masalah elite, atau ia sesungguhnya adalah penyakit budaya?
Filsuf Thomas Hobbes dalam Leviathan pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya egois, hidup dalam “perang semua melawan semua.” Jika tanpa aturan, manusia akan mengikuti naluri paling purba: ingin lebih banyak, lebih aman, lebih berkuasa.
Dedi tampaknya melihat gejala Hobbesian ini dalam kehidupan sehari-hari rakyat: dari kasus warga yang menyewakan kembali bantuan gratis, hingga mengambil jatah lebih dari yang seharusnya.
Di sisi lain, Rousseau berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik, hanya rusak oleh sistem sosial yang tidak adil.
Jika mengikuti Rousseau, korupsi rakyat kecil hanyalah cerminan dari sistem politik yang memberi contoh buruk di atas. Bagaimana rakyat bisa jujur jika elite yang mereka tonton setiap hari justru rakus tanpa malu?
Pernyataan Dedi berdiri di antara dua kutub filsafat itu. Ia melihat bahwa sifat serakah memang ada di individu, tetapi juga dibesarkan oleh budaya.
Bahwa rakyat kecil bisa berbuat curang dalam lingkup terbatas, sementara politisi melakukannya dalam lingkup besar.
Pertanyaannya kemudian: solusi apa yang mungkin? Jika kita menganggap korupsi hanya masalah elite, kita akan sibuk mengganti orang di kursi kekuasaan, tanpa mengubah kebiasaan di akar rumput.
Tapi jika kita menganggap semua orang rawan korup, kita bisa jatuh ke sinisme: seolah tak ada yang bisa dipercaya.
Mungkin yang perlu diingat adalah kata-kata Seneca, filsuf Stoik: “Kita semua sama-sama sakit, hanya tingkat keparahannya berbeda.”
Korupsi adalah penyakit yang menjangkiti dari atas hingga bawah. Maka, upaya melawan harus dimulai dari dua arah: sistem yang ketat di atas, dan pendidikan karakter yang menumbuhkan integritas di bawah.
Ucapan Dedi boleh jadi menyakitkan. Tapi ia juga cermin retak yang memperlihatkan wajah kita sendiri. Pertanyaannya, apakah kita mau bercermin, atau kembali menyalahkan bayangan?***







![Presiden AS Donald Trump berbicara kepada anggota pers di dalam Air Force One selama penerbangan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, pada 6 April 2025 [Kent Nishimura/Reuters]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2025/04/2025-04-07T000448Z_1552781344_RC2MSDAA10A2_RTRMADP_3_USA-TRUMP-1743986064-225x129.webp)




![Presiden AS Donald Trump berbicara kepada anggota pers di dalam Air Force One selama penerbangan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, pada 6 April 2025 [Kent Nishimura/Reuters]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2025/04/2025-04-07T000448Z_1552781344_RC2MSDAA10A2_RTRMADP_3_USA-TRUMP-1743986064-360x200.webp)













