Cianjur, Mevin.ID – Kabupaten Cianjur kembali diguncang oleh tragedi kesehatan massal. Dalam dua hari terakhir, sedikitnya 176 warga—termasuk puluhan siswa sekolah—mengalami keracunan makanan, memaksa pemerintah daerah untuk turun tangan penuh.
Puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan dikerahkan ke berbagai titik demi memastikan para korban mendapat perawatan maksimal, bahkan setelah mereka pulang ke rumah.
“Kami pastikan tidak ada warga yang terabaikan, baik yang bergejala maupun tidak. Semua akan diperiksa,” kata Bupati Cianjur Mohamad Wahyu Ferdian, Selasa (22/4/2025).
Santapan Berakhir Petaka
Insiden ini bermula dari dua kejadian terpisah namun berdekatan. Pertama, keracunan terjadi pada 78 siswa SMP PGRI 1 dan MAN 1 Cianjur, usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah. Kedua, sebanyak 98 warga Kecamatan Mande jatuh sakit setelah menghadiri acara hajatan dan menyantap hidangan yang diduga terkontaminasi.
“Kita tetapkan ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan, mengingat jumlah korban dan cakupannya,” ujar Yusman Faisal, Kepala Dinas Kesehatan Cianjur.
Gerak Cepat Pemerintah
Dalam merespons krisis ini, Pemkab Cianjur memobilisasi seluruh puskesmas di wilayah kota dan kecamatan. Tenaga medis diperintahkan mendatangi rumah-rumah korban, bahkan warga yang tidak menunjukkan gejala pun akan diperiksa guna mencegah penyebaran dampak lanjutan.
Bupati Wahyu menegaskan, pengawasan dan pendampingan akan berlangsung hingga para korban benar-benar pulih. Selain itu, pemerintah juga menunggu hasil laboratorium dari sampel makanan yang sudah dikirimkan untuk mengidentifikasi sumber pasti racun yang mencemari makanan.
“Langkah ke depan akan sangat tergantung hasil uji lab. Tapi yang paling utama sekarang adalah memulihkan kesehatan warga dan memastikan tak ada korban susulan,” tegasnya.
Peringatan bagi Program MBG?
Kejadian ini turut memantik pertanyaan soal pengawasan kualitas makanan dalam program MBG yang digagas pemerintah pusat.
Meski bertujuan mulia, program ini dinilai rentan jika tidak dibarengi standar keamanan pangan yang ketat. Pakar dari UGM bahkan menyebut keracunan serupa di Klaten beberapa waktu lalu kemungkinan disebabkan oleh proses pengolahan yang buruk.***


























