“Cicak di Dinding”: Hikmah Rejeki dari Dinding Masa Kecil Kita

- Redaksi

Jumat, 27 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANGKALI kita tak pernah menyangka bahwa lagu masa kecil kita — “Cicak-cicak di Dinding” — diam-diam menyimpan pelajaran hidup yang dalam.

Di balik nada riang dan gerak lucu jari-jari, tersembunyi pelajaran spiritual tentang takdir, ikhtiar, dan keyakinan pada Sang Pemberi Rejeki.

Cicak itu tak bersayap. Ia hanya bisa merayap pelan di dinding, sembunyi dari bahaya, dan menanti dengan diam. Sementara mangsanya — nyamuk — bebas terbang tinggi, ke mana saja, jauh dari jangkauannya.

Jika cicak bisa berpikir seperti manusia, mungkin ia sudah mengeluh, “Ya Allah, kenapa aku diciptakan sebegini lemah, sedangkan makananku justru begitu lincah dan bebas?”

Namun hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat atau kuat. Dalam sunyi geraknya, cicak mengajarkan bahwa ikhtiar bukan perlombaan, tetapi pengabdian. Ia tetap diam-diam merayap, dan takdir pun mendekatkan rejekinya — nyamuk datang, hap! lalu ditangkap.

Rejeki Itu Dikejar, Bukan Mengejar

Kita sering berpikir bahwa rejeki harus kita kejar dengan sekuat tenaga — lembur tanpa henti, ambisi tiada jeda, panik saat penghasilan tak sesuai rencana. Tapi kisah cicak dan nyamuk mengajarkan yang sebaliknya: rejeki tahu alamat kita. Ia tahu kapan datang, bagaimana cara datang, dan siapa yang membawanya.

“Sesungguhnya rejeki memburu hamba,” sabda Nabi Muhammad ﷺ, “lebih banyak dari kejaran ajal terhadapnya.”

Sebuah kisah tentang sebutir garam pernah dituturkan oleh seorang penulis. Bagaimana ia berasal dari ombak di Laut Jawa, terbawa arus ke tambak-tambak di Bangkalan, dimurnikan di Pamekasan, digudangkan, dikemas, dikirim, lalu entah berapa kali berpindah tangan hingga akhirnya masuk ke dalam sepiring nasi seorang manusia di Yogyakarta.

Sebutir garam itu menempuh perjalanan ratusan kilometer — hanya untuk melarutkan dirinya di mulut seseorang yang ditakdirkan menikmatinya.

Bayangkan jika garam saja menjalani takdirnya dengan sedemikian rupa, bagaimana dengan rejeki kita yang telah ditulis di Lauhul Mahfuzh sejak sebelum kita lahir?

Pelajaran dari Dinding dan Dapur

Pelajaran dari cicak di dinding adalah tentang kesabaran dan yakin kepada Allah. Sementara pelajaran dari garam di dapur adalah tentang betapa banyaknya tangan yang bekerja atas izin-Nya agar rejeki itu sampai ke hadapan kita — dari petani, nelayan, pengemas, pengangkut, penjual, sampai istri atau ibu kita yang menyiapkan makan.

Betapa kita sebenarnya adalah makhluk yang amat kaya — bukan karena banyaknya harta, tapi karena keyakinan utuh bahwa Allah tak akan membiarkan hamba-Nya tanpa cukup.

Akhirnya,

Rejeki adalah tentang percaya. Percaya bahwa meski kita cicak yang hanya bisa merayap, Allah bisa menggerakkan nyamuk untuk datang.

Percaya bahwa sebutir garam akan menemui takdirnya — bahkan jika ia harus menunggu angin laut, panas matahari, dan pengangkutan antar kota.

Dan percaya bahwa mungkin yang perlu kita lakukan hari ini bukan lari lebih cepat, tapi menata kembali hati yang kalut oleh kekhawatiran dunia.

Sebab boleh jadi kita tak tahu di mana rejeki kita. Tapi rejeki tahu di mana tempat kita berada.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan
Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka
Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada
Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar
Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026
Ada Apa dengan BEI dan OJK? Ketika Kepercayaan Pasar Diuji, Negara Harus Hadir Menenangkan
Menagih Janji di Balik Etalase Bandung Utama
Sesar Lembang: Literasi Kebencanaan yang Terabaikan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:45 WIB

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:23 WIB

Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka

Selasa, 3 Februari 2026 - 23:30 WIB

Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada

Senin, 2 Februari 2026 - 20:46 WIB

Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar

Senin, 2 Februari 2026 - 08:48 WIB

Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026

Berita Terbaru