BOGOR, Mevin.ID – Gelombang perhatian dan dukungan terus mengalir kepada Sudrajat, bapak tua penjual es gabus asal Kampung Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kisah miris ini sempat viral setelah Sudrajat menjadi korban tuduhan penggunaan spons sebagai bahan baku makanan yang dijualnya.
Fitnah
Sudrajat mengungkapkan secara terbuka kepada publik bahwa dirinya mengalami trauma pasca insiden penyiksaan oleh oknum Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Polri.
Insiden itu terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, saat ia sedang berjualan dan didatangi oleh aparat tersebut.
Mereka menuduh Sudrajat menjual es gabus yang mengandung bahan berbahaya, sejenis busa poliuretan atau spons kasur. Tuduhan ini kemudian diikuti dengan tindakan kekerasan fisik terhadapnya.
Usai insiden itu, Sudrajat menyatakan kebingungan atas tuduhan itu. Ia menegaskan telah berjualan es kue selama hampir tiga dekade tanpa ada keluhan dari pembeli.
“Saya sudah berjualan es kue selama 30 tahun, tidak pernah ada yang komplain. Baru Sabtu lalu mengalami kejadian seperti ini,” ujarnya pada Selasa (27/1/2026).
Sudrajat pun mengaku trauma setelah diduga mengalami penganiayaan oleh oknum Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas Polri itu. Dalam kesaksiannya di rumahnya di Bojonggede, Bogor, Sudrajat mendeskripsikan kronologi pemukulan dan perlakuan kasar yang dialaminya di pos keamanan.
Ia bahkan dipaksa memakan es yang telah diremas hingga hancur. Ia pun mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh setelah dipukul, ditendang dan digebuk pakai selang.
Akibat kejadian itu, Sudrajat enggan kembali berjualan di lokasi tersebut karena trauma. Ia juga menyayangkan tidak adanya permintaan maaf langsung serta bantuan pengobatan dari aparat yang terlibat.
Sepulang ke rumah pada dinihari sebelum subuh, Sudrajat bukan sja merasakan sakit fisik akibat pemukulan, tetapi sakit hati. Badannya yang kurus kerempeng tak mampu melawan dua aparat yang berperawakan tinggi gempal.
Sudrajat hanya bisa menangis dibarengi ratapan kesedihan keluarganya. Ia hanya bisa berharap keadilan akan segera tiba.
Usai video fitnah terhadap Sudrajat itu viral, institusi kepolisian pun tak tinggal diam. Sampel makanan yang disebut es kue, es gabus atau es spons itu diperiksa Tim Dokpol Polda Metro Jaya. Hasilnya, menyatakan seluruh sampel es yang diuji layak konsumsi dan bebas zat berbahaya.
Sebagai tindak lanjut, aparat terkait pun memberikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka di markas Polsek Kemayoran.
Banjir Hadiah
Pasca kejadian yang memicu kegaduhan di publik itu, kehidupan Sudrajat dan keluarganya perlahan berubah. Kunjungan dan bantuan berdatangan dari berbagai pihak sebagai bentuk solidaritas.
Perhatian dimulai dari tingkat lokal. Sudrajat telah menerima kunjungan dari pihak Kelurahan setempat, Koramil Bojonggede, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.
Pemkab Bogor tidak hanya memberikan bantuan sembako, tetapi juga menyatakan komitmen untuk membantu pendidikan anak-anak Sudrajat agar tetap dapat melanjutkan sekolah.
Perhatian kemudian merambah ke tingkat provinsi. Utusan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menghubungi Sudrajat dan mengajaknya untuk bertemu langsung dengan gubernur dalam waktu dekat guna membicarakan bentuk dukungan lebih lanjut.
Polisi Datang, Motor Hadir
Pada Selasa, 27 Januari 2026, giliran kepolisian yang turun memberikan dukungan langsung. Kapolres Depok, Kombes Pol. Abdul Waras, mendatangi kediaman Sudrajat. Dalam kunjungan tersebut, Kapolres menyerahkan bantuan berupa satu unit sepeda motor kepada Sudrajat.
“Ini bentuk kepedulian kami. Semoga dapat meringankan dan membantu aktivitas Bapak Sudrajat,” ujar Abdul Waras, seperti dikutip dalam keterangan resmi.
Insiden viral yang awalnya negatif telah berubah menjadi momentum untuk mengungkap kebenaran dan membangun empati.
Tuduhan bahwa es gabusnya terbuat dari spons telah terbantahkan melalui klarifikasi luas di media dan pemeriksaan pihak berwenang. Justru, ketahanan dan kejujuran Sudrajat dalam menghadapi ujian publik mendapat simpati.
Kini, Sudrajat tidak hanya mendapatkan rehabilitasi nama baik, tetapi juga dukungan konkret berupa alat transportasi dan perhatian terhadap masa depan keluarganya.
Kisahnya menjadi pengingat akan kekuatan solidaritas sosial dan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkan tuduhan yang dapat merugikan pihak lain.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad


























