Jakarta, Mevin.ID – Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Da’i Bachtiar menilai kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta yang melibatkan anak sebagai pelaku merupakan bentuk ancaman baru yang lebih berbahaya daripada terorisme konvensional.
Menurut Da’i, ancaman terorisme di masa lalu masih dapat diidentifikasi karena memiliki struktur organisasi, tujuan, dan jaringan yang jelas. Namun, fenomena terbaru muncul dari lingkungan sosial yang dekat dengan masyarakat, bahkan dari kalangan pelajar.
“Kalau teroris jelas organisasinya, bisa dibongkar dan dilacak. Tapi kalau yang ngebom anak-anak kita sendiri, tanpa motivasi apa-apa, itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Itu yang paling berbahaya,” kata Da’i Bachtiar dalam diskusi di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Da’i menegaskan, peristiwa ledakan di SMAN 72 harus menjadi peringatan nasional bahwa ancaman kekerasan kini dapat tumbuh di lingkungan keluarga dan sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum atau pemerintah.
“Bahaya seperti ini tidak cukup ditangani aparat. Kita semua, terutama keluarga dan lingkungan terdekat, harus terlibat. Karena ancamannya ada di sekitar kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengalaman panjang Indonesia dalam menghadapi aksi teror, mulai dari tragedi Bom Bali hingga pengeboman rumah ibadah dan kantor pemerintahan, yang mampu ditekan lewat pembentukan BNPT dan program deradikalisasi. Namun, pendekatan tersebut dinilai tak cukup untuk menjawab ancaman baru yang melibatkan remaja.
“Kalau anak-anak sendiri yang melakukannya, ini jauh lebih sulit diantisipasi. Jangan anggap remeh, karena bisa jadi bahaya laten yang tumbuh di rumah kita sendiri,” tegas Da’i.
Diketahui, ledakan terjadi di lingkungan SMAN 72 Jakarta, kompleks Kodamar TNI AL Kelapa Gading, pada Jumat (7/11/2025) siang. Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan korban luka bakar dan serpihan, serta memicu kepanikan di sekitar sekolah.
Polisi menyebut, pelaku merupakan siswa sekolah tersebut yang masih berusia 17 tahun dan diduga sempat mengalami bullying sebelum kejadian.***


























