Danantara Siap Pangkas 804 Perusahaan BUMN: Dari Raksasa Gemuk ke Mesin Investasi Baru

- Redaksi

Selasa, 21 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan P. Roeslani

Kepala Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan P. Roeslani

Jakarta, Mevin.ID — Peta kekuasaan ekonomi negara akan berubah besar-besaran. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) — lembaga baru bentukan pemerintah — bersiap memangkas jumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari 1.044 entitas menjadi hanya sekitar 230–240 perusahaan dalam lima tahun ke depan.

Langkah ini bukan sekadar efisiensi korporasi. Ia adalah operasi besar untuk mengubah wajah bisnis milik negara yang selama ini dikenal “gemuk di struktur, kurus di kinerja.”

“Sekarang BUMN itu sudah lebih dari 1.044, tersebar di 12 sektor. Kami ingin membuatnya efektif dan efisien. Target kami, lima tahun ke depan, hanya 230 sampai 240 perusahaan,” ujar Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani, dalam acara di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (20/10/2025).

Dari Konsolidasi ke Reinvasi

Selama masa Erick Thohir, Kementerian BUMN sudah memangkas dan mengelompokkan perusahaan agar lebih ramping. Tapi bagi Rosan, pekerjaan itu baru separuh jalan.
Danantara kini mengambil alih estafetnya — bukan sekadar memangkas, tapi menghidupkan kembali aset-aset yang lama “tertidur.”

“Yang paling penting bagi kami adalah konsolidasi dan optimalisasi aset. Kami ingin menciptakan nilai baru dari kekayaan negara yang selama ini belum produktif,” ujar Rosan.

Langkah ini menandai pergeseran paradigma. Jika dulu dividen dari BUMN langsung disetorkan ke Kementerian Keuangan, kini sebagian besar akan dikelola kembali oleh Danantara — sebagai “mesin investasi nasional.”

Uang dari Uang Negara

Pendanaan Danantara akan bersumber dari dividen yang dikumpulkan dari seluruh BUMN. Tahun ini saja, nilai dividen yang diterima mencapai Rp140 triliun, dan diproyeksikan meningkat menjadi Rp150 triliun per tahun. Dalam lima tahun, target investasinya menembus Rp750 triliun.

Angka yang fantastis, tapi juga menuntut akuntabilitas luar biasa.
Dalam ekosistem bisnis global yang cepat berubah, Danantara berperan layaknya “sovereign wealth fund” baru yang menanggung harapan: mengembalikan martabat ekonomi negara melalui manajemen profesional, bukan politik.

BUMN: Dari Kebanggaan ke Beban

Selama ini, BUMN sering menjadi paradoks. Di satu sisi, ia adalah simbol kedaulatan ekonomi; di sisi lain, ia kerap jadi beban fiskal. Dari ribuan entitas, hanya segelintir yang benar-benar menyumbang besar ke kas negara.

Data menunjukkan, 97 persen dividen negara hanya berasal dari delapan perusahaan utama. Sisanya — ratusan bahkan ribuan anak-cucu usaha — lebih banyak “bernafas lewat utang” atau hanya menambah tumpukan administrasi.

Karena itu, langkah Danantara dinilai bukan sekadar efisiensi bisnis, melainkan operasi penyelamatan struktur ekonomi negara dari inefisiensi yang menahun.

Dari Birokrasi ke Korporasi

Langkah ini sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintahan Prabowo–Gibran, terutama dalam hal memperkuat kemandirian ekonomi nasional dan menumbuhkan investasi produktif.

Namun, di balik angka dan jargon efisiensi, terselip tantangan besar: bagaimana memastikan pengelolaan aset publik tidak bergeser menjadi monopoli segelintir elite investasi.
Efisiensi harus dibarengi transparansi. Ramping bukan berarti tertutup.

Danantara sedang membangun sistem investasi baru, tapi juga sedang diuji: apakah ia bisa memutus rantai panjang budaya birokrasi dan membuka era baru manajemen kekayaan negara yang berdaulat, efisien, dan akuntabel?***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Danantara Umumkan 8 Raksasa Dunia Lolos Tender Proyek ‘Sampah Jadi Listrik’ di 4 Kota Indonesia
Utang RI Tembus Rp 9.637 Triliun, Menkeu Purbaya: Demi Menjaga Ekonomi dari Krisis
Aturan Baru! Menkeu Purbaya Wajibkan 58% Dana Desa 2026 untuk Koperasi Merah Putih
Danantara Indonesia Siapkan Rp202,4 Triliun untuk 4 Proyek Strategis di 2026
KLH Segel Pabrik Kertas PT Panca Kraft Pratama di Tangerang Akibat Pencemaran Udara
Menjelajah Galery Salapak: Etalase Mimpi UMKM Bandung, dari Seblak hingga Menembus Labuan Bajo
Transformasi Besar BUMN 2026, Danantara Targetkan Pangkas 1.043 Perusahaan Menjadi 300 Tanpa PHK
Projo Desak Percepatan “Tech-Savvy Farming” Guna Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 20:43 WIB

Danantara Umumkan 8 Raksasa Dunia Lolos Tender Proyek ‘Sampah Jadi Listrik’ di 4 Kota Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:26 WIB

Utang RI Tembus Rp 9.637 Triliun, Menkeu Purbaya: Demi Menjaga Ekonomi dari Krisis

Minggu, 15 Februari 2026 - 10:10 WIB

Aturan Baru! Menkeu Purbaya Wajibkan 58% Dana Desa 2026 untuk Koperasi Merah Putih

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:17 WIB

Danantara Indonesia Siapkan Rp202,4 Triliun untuk 4 Proyek Strategis di 2026

Jumat, 13 Februari 2026 - 20:02 WIB

KLH Segel Pabrik Kertas PT Panca Kraft Pratama di Tangerang Akibat Pencemaran Udara

Berita Terbaru