KEDIRI, Mevin.ID – Siapa sangka, patung Macan Putih di Kediri yang sempat viral karena bentuknya yang dianggap lucu oleh netizen, kini justru membawa berkah luar biasa.
Tak lagi sekadar bahan perbincangan di media sosial, ikon baru ini bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kreatif bagi warga sekitar.
Fenomena “naik daun” patung ini terlihat nyata saat kawasan sekitarnya resmi dijadikan lokasi Car Free Day (CFD) pada Minggu (4/1/2026).
Ribuan warga yang datang tidak hanya berolahraga, tetapi juga berburu pernak-pernik bertemakan Macan Putih.
View this post on Instagram
Souvenir Macan Putih Laris Manis
Popularitas patung ini dimanfaatkan dengan cerdas oleh para pelaku UMKM. Melalui unggahan akun TikTok @Jembling_021, terlihat antusiasme tinggi masyarakat yang mengerumuni pedagang kaos bergambar Macan Putih.
Tidak hanya kaos, berbagai produk lain seperti boneka pun mulai diproduksi untuk memenuhi permintaan kolektor souvenir unik.
Warganet yang semula melontarkan candaan, kini berbalik memberikan pujian. Banyak yang menyebut bahwa karya ini merupakan “viral yang membawa berkah”.
“Alhamdulillah, karya Mbah Suari gowo (bawa) berkah,” tulis salah satu akun di kolom komentar TikTok.
Dibalik Sosok Mbah Suari dan Legenda Desa
Patung yang viral ini merupakan hasil buah tangan seniman lokal bernama Suari. Dibangun selama 19 hari, Mbah Suari (sapaan akrabnya) melihat karya ini sebagai bagian dari identitas lokal yang kaya makna, terlepas dari beragam reaksi publik di awal kemunculannya.
Bukan sekadar karya seni acak, Kepala Desa setempat, Safi’i, menjelaskan bahwa pembangunan monumen ini melalui hasil musyawarah desa yang melibatkan tokoh masyarakat, agama, hingga pemuda.
- Makna Filosofis: Nama “Macan Putih” diambil dari legenda lokal yang dipercaya warga sebagai simbol penjaga desa dari marabahaya.
- Potensi Wisata: Bertepatan dengan momen libur Nataru 2026, lokasi ini pun mendadak berubah fungsi menjadi destinasi wisata kota yang paling dicari.
Viral yang Memberdayakan
Fenomena Patung Macan Putih membuktikan bahwa narasi media sosial bisa dikelola menjadi peluang ekonomi yang nyata.
Dukungan masyarakat terhadap Mbah Suari menunjukkan apresiasi terhadap seniman lokal yang karyanya mampu menghidupkan suasana desa.
Kini, Patung Macan Putih bukan lagi soal “bentuk yang lucu”, melainkan simbol kreativitas dan gotong royong warga Kediri dalam bingkai ekonomi kerakyatan.***


























