Bekasi, Mevin.ID — Di antara deru kendaraan di Jalan Raya Cibubur, ada satu pemandangan yang tak luput dari perhatian Ustadz Suhanda: sekelompok anak Punk yang sehari-harinya mengamen, mabuk, dan dianggap “tak terurus”.
Tapi di mata Suhanda, mereka bukan anak nakal. Mereka hanya belum menemukan arah pulang.
Sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kantor Kemenag Kota Bekasi, Suhanda memilih jalan dakwah yang tak biasa.
Ia tak hanya mengajar di majelis taklim, tapi justru membina mereka yang sering dihindari banyak orang: komunitas anak jalanan Punk.
“Setiap hari saya lewat situ, melihat mereka nongkrong. Dalam hati saya bertanya, siapa yang peduli sama mereka?” kenangnya.
Hingga suatu hari, saat mereka mengamen di depan rumahnya, Suhanda memberi uang lebih dan memulai pendekatan. Dari satu anak, lalu merambat ke yang lain. Butuh kesabaran, keberanian, dan keyakinan untuk masuk ke dunia mereka.
Mereka bukan remaja biasa. Banyak yang kecanduan alkohol, sebagian pakai obat-obatan. Tapi Suhanda percaya: tak ada hati yang benar-benar tertutup untuk dakwah, jika disampaikan dengan cinta.

Rumah Singgah: Tempat Berteduh, Tempat Berubah
Dari pendekatan itu lahirlah Rumah Singgah, sebuah tempat sederhana di Jati Sampurna, Kota Bekasi, yang jadi rumah kedua bagi anak-anak Punk.
Di sana, mereka belajar hal-hal mendasar: bersuci, wudhu, shalat lima waktu. Tapi juga belajar soal hidup—dan harapan.
Kini, lebih dari 40 anak Punk telah dibina di rumah singgah tersebut. Mereka tak hanya diajak kembali pada ajaran agama, tetapi juga dibekali keterampilan ekonomi.
Ada yang buka usaha laundry, cuci motor, kerja sebagai kurir, hingga berdagang cilok dengan merek yang unik: “Cilok Mas Tri”—sebagai bentuk penghargaan kepada Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto.
“Kami ingin mereka mandiri. Karena hidayah itu juga butuh kehidupan yang layak,” ujar Suhanda.

Dakwah Jalanan yang Menginspirasi
Perjalanan Suhanda bukan dimulai dari birokrasi, tapi dari pesantren. Ia adalah alumnus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Lulus tahun 2017, ia pulang ke Bekasi dan mulai berdakwah dari rumah ke rumah, hingga akhirnya diangkat menjadi penyuluh KUA dan PPPK Kemenag Kota Bekasi pada 2023.
Kini, Rumah Singgah tak hanya jadi tempat binaan lokal. Suhanda rutin mengadakan pertemuan anak Punk se-Jawa Barat dalam kegiatan bertajuk MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa) di kawasan Puncak.
Di sana, mereka berbagi cerita, bertukar semangat, dan membuktikan bahwa masa lalu kelam bukan akhir segalanya.

Dari Pinggiran ke Panggung Nasional
Atas dedikasinya, Suhanda Perwakilan Jawa Barat di Ajang Penyuluh Agama Islam Award 2025 di tingkat Nasional.
Dukungan datang dari berbagai pihak: dari Kemenag, Dinas Sosial Kota Bekasi, hingga langsung dari Wali Kota Bekasi.
Rencana ke depan, program pemberdayaan ini akan dikembangkan melalui kolaborasi lintas instansi. Unit usaha seperti cuci motor dan gerobak Cilok Mas Tri akan diperluas, agar semakin banyak anak jalanan yang bisa dirangkul dan dibina.
“Ini bukan soal dakwah di masjid. Ini dakwah yang turun ke jalan. Yang bicara dari hati ke hati. Saya hanya ingin mereka punya harapan,” tutup Suhanda.
Apa jadinya jika setiap kita peduli satu anak jalanan saja? Mungkin, tak ada lagi yang harus mengamen untuk sekadar didengar.
Karena cinta itu—datangnya bisa dari siapa saja. Bahkan dari seorang penyuluh agama yang pulang kerja, dan memutuskan berhenti sejenak di trotoar.***
Penulis : Fathur Rachman
Editor : Pratigto


























