Bandung, Mevin.ID – Gubernur terpilih Jawa Barat, Dedi Mulyadi membeberkan enam poin penting terkait pendidikan di Jawa Barat ke depan.
Gubernur terpilih yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini menyeru seluruh kepala sekolah dari SD, SMP, SMA, SMK, hingga Madrasah Aliyah (MA) di Provinsi Jawa Barat untuk melahirkan generasi yang bermutu melalui pendidikan yang juga bermutu.
Dedi Mulyadi menjelaskan, ke depan pihaknya ingin bersama-sama membangun negeri ini melalui penataan pendidikan di Jawa Barat yang istimewa.
“Saya paham kepada sekolah sering dihadapkan pada aspek-aspek psikologi yang bersifat tekanan diakibatkan karena pengelolaan keuangan,” kata KDM dalam unggahan video Instagram @dedimulyadi71, dikutip Jumat (7/2/2025).
Lihat postingan ini di Instagram
Untuk itu, ada beberapa hal akan disampaikan dan menjadi komitmen bersama, seperti dijelaskan dalam enam poin berikut ini:
1. Tim Administrasi Sekolah
Seluruh pengelolaan keuangan diserahkan sepenuhnya kepada tim administrasi di tiap sekolah.
“Dan kami akan melakukan pendampingan administrasi,” ujar KDM.
2. Pengelola Keuangan BOS
Khusus untuk sekolah dasar (SD), pihaknya berkoordinasi dengan bupati/walikota agar setiap sekolah disiapkan pengelola keuangan.
“Keuangan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tidak dikelola oleh kepala sekolah, karena ini sangat memberikan pembebanan yang cukup berat bagi seorang kepala sekolah,” tegasnya.
3. Beban Administratif
Guru tidak boleh dibebani dengan berbagai aspek yang bersifat administratif. Guru jangan sampai disibukkan harus membuat laporan yang menganggu fokusnya untuk mengajar siswa.
Solusinya, tegas Dedi, pihaknya akan menyiapkan tim untuk mendampingi guru-guru di setiap sekolah untuk membantu mengerjakan beragam aspek yang bersifat administratif.
“Seperti untuk kenaikan golongan yang berdampak pada kenaikan tunjangan, gaji dan sejenisnya, biarkan nanti input kepegawaian yang melakukan pengelolaan, dan guru difokuskan untuk mengajar tanpa berpikir apapun yang di luar kepentingan belajar mengajar,” ungkap Dedi.
4. Konten Medsos
Dedi meminta guru tidak melakukan kegiatan-kegiatan di media sosial di lingkungan sekolah, yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan.
“Misalnya guru tiba-tiba joget-joget di ruang kelas, guru tiba-tiba memperlihatkan baju yang dipakainya, memperlihatkan sepatu yang dipakainya, memperlihatkan kecantikan yang ada dalam dirinya agar menarik perhatian netizen,” urai Dedi.
Menurutnya hal itu tidaklah penting karena guru harus fokus memenuhi kebutuhan siswa.
Boleh saja memposting di media sosial, tetapi kontennya tentang kegiatan siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan semakin merangsang siswa untuk kreatif di sekolahnya.
5. Sekolah Jadi Ladang Cuan
Berikutnya adalah, sekolah jangan dijadikan ladang untuk melakukan proses transaksi perdagangan.
Perdagangan yang dimaksud, kata Dedi, seperti menjual buku, LKS, menjual seragam, dan berbagai kegiatan lannya.
“Sekolah tidak boleh menyelenggarakan kegiatan study tour yang di dalamnya ada pemungutan,” tegasnya.
Termasuk kegiatan-kegiatan seperti renang dan sejenisnya yang di dalamnya ada pungutan pada siswa, karena ini akan selalu menimbulkan kecurigaan dan berdampak bagi tekanan psikologi para guru.
Dedi Mulyadi mengajak semua pihak bersama-sama menata pendidikan yang lebih baik dengan satu komitmen bahwa anggaran bantuan provinsi untuk sekolah-sekolah akan difokuskan hanya semata untuk kebutuhan di sekolah, bukan kegiatan-kegiatan dengan tujuan-tujuan lain.
6. Anggaran Pendidikan Pemdaprov Jawa Barat
Selanjutnya soal anggaran pengelolaan kegiatan di sekolah yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat, pihaknya akan mendorong untuk kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler termasuk kegiatan lainnya yang terkadang muncul secara tiba-tiba.
“Dan semuanya nanti akan kami alokasikan dengan baik dengan tujuan semua kita bisa hidup dengan senang belajar, dengan tenang fokus pada tujuan utama untuk meningkatkan seluruh rakyat Jawa Barat,” pungkas Dedi.***


























