Banda Aceh, Mevin.ID – Sejumlah wilayah di Aceh Utara hingga kini masih terputus dari akses darat setelah banjir besar yang dipicu hujan berintensitas tinggi melanda sejak awal pekan.
Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, menyebut sedikitnya delapan kecamatan—Langkahan, Kuta Makmur, Samudera, Muara Mulia, Sawang, Muara Batu, Nisam, dan Lapang—masih terisolasi total.
“Pemerintah kabupaten bersama instansi terkait sedang mendistribusikan bantuan masa panik ke kecamatan terdampak untuk kemudian diteruskan ke gampong-gampong pusat pengungsian,” ujar Muntasir, Jumat.
Logistik Menipis, Bupati Ajukan Bantuan ke Presiden
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, telah mengajukan permohonan penambahan bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto melalui BNPB. Stok logistik yang tersedia makin menipis, sementara jumlah pengungsi terus bertambah.
Distribusi bantuan menjadi lebih sulit karena transportasi darat lumpuh, dengan jalan-jalan terendam banjir setinggi pinggang hingga atap kendaraan. Akses komunikasi juga mengalami gangguan, listrik padam, dan jaringan air bersih terputus akibat pipa PDAM rusak diterjang arus.
Ribuan Warga Belum Dievakuasi
Memasuki hari ketiga status tanggap darurat, masih banyak warga yang belum dapat dievakuasi. Keterbatasan personel dan peralatan SAR membuat proses penyelamatan berlangsung lambat.
Menurut data sementara BPBD Aceh Utara per Kamis (28/11) pukul 12.30 WIB:
- 20.047 KK atau 54.474 jiwa terdampak banjir
- 17.119 KK atau 55.287 jiwa mengungsi di 36 titik pada 22 kecamatan
- Kelompok rentan: 64 ibu hamil, 490 balita, 526 lansia, dan 12 penyandang disabilitas
Kerusakan fisik akibat banjir juga cukup masif:
- 22 rumah rusak berat
- 67 rumah rusak sedang
- 50 rumah rusak ringan
- 680 hektare sawah dan 571 hektare tambak terendam
- 9 tanggul rusak dan 2 jembatan putus
Hingga kini, bencana ini telah merenggut 6 korban jiwa.***


























