Tapanuli Selatan, Mevin.ID – Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera menyisakan kerusakan parah dan dugaan penyebab yang mengarah pada aktivitas di hulu sungai.
Risman Rambe, Kepala Desa Garoga, Distrik Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menyampaikan kesaksian pilu sekaligus menuding adanya aktivitas perusahaan di hulu sebagai pemicu utama bencana.
Saat ditemui di lokasi, Risman Rambe mengungkapkan keterkejutannya. Ia menyebutkan bahwa material banjir kali ini didominasi oleh kayu gelondongan dalam jumlah yang masif.
“Memang kita sangat terkejut. Selama ratusan tahun desa kami, kami belum pernah melihat [kayu] sebesar ini,” ungkap Risman. “Dan kita mengetahui berita dari masyarakat bahwa ada perusahaan yang membersihkan lahan kelapa sawit di bagian hulu sungai itu sendiri.”
Risman Rambe menyatakan bahwa kayu gelondongan yang dibawa banjir mencapai ribuan kubik, merusak total pemukiman warga.
Desa Hancur 100%, Puluhan Korban Jiwa
Kerusakan di Desa Garoga dilaporkan sangat parah. Kepala Desa menyebutkan bahwa rumah warga dan lahan pertanian nyaris rata dengan tanah.
“Di sini kita bisa melihat, Tuan, kayu gelondongan menjadi material banjir yang sebagian besar terjadi merusak rumah warga. Dari sinilah, Tuan, [bencana] berasal,” tuturnya.
Ia bahkan menyebutkan rumahnya sendiri yang sebelumnya tidak pernah tersentuh air, kini ikut terdampak.
“Rumah di Desa Garoga rusak 100 persen. Tidak ada lagi yang bisa di tempati. Terutama sawah, semuanya tidak bisa lagi. Termasuk rumah ayah, termasuk rumah saya, rumah saya sudah terlihat di sana, tidak pernah tersentuh air,” jelasnya.
Data sementara di Desa Garoga mencatat 35 korban jiwa telah ditemukan, namun banyak warga lain yang masih hilang dan belum ditemukan.
Permohonan Bantuan Mendesak
Kepala Desa Garoga juga menyampaikan pesan keras kepada pemerintah, mendesak investigasi menyeluruh terkait dugaan penyebab bencana, sekaligus memohon bantuan secepatnya.
“Harapan kami adalah diselidiki secara menyeluruh, inilah sebabnya hal ini terjadi, karena kita tidak menerima hal itu,” tegas Risman Rambe, “wilayah desa kami, kami hancur. Satu-satunya kehidupan kita di desa ini.”
Ia menutup pernyataannya dengan permohonan bantuan kemanusiaan. “Bantuan itu penting segera dikirim ke tempat kami. Karena kita tidak ada lagi yang bisa kami harapkan kecuali bantuan dari pemerintah, masyarakat semua.”***


























