Di Balik Gemerlap K-Pop, Ketika Jempol Knetz Meruntuhkan Panggung Wisata Negeri Ginseng

- Redaksi

Jumat, 20 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAYANGKAN sebuah panggung megah di Axiata Arena, Kuala Lumpur. Lampu sorot berwarna-warni, ribuan suara yang serentak menyanyikan bait lagu DAY6, dan atmosfer yang dipenuhi cinta.

Namun, siapa sangka, di balik sisa-sisa euforia malam 31 Januari 2026 itu, sebuah “perang” besar sedang dipersiapkan—bukan dengan senjata, melainkan dengan ketikan jempol di layar ponsel.

Hari ini, Korea Selatan sedang berkaca pada luka yang mereka buat sendiri. Krisis citra internasional sedang melanda Negeri Ginseng, mengubah sorak-sorai Hallyu Wave menjadi kesunyian di lobi-lobi hotel Seoul yang kini mulai sepi.

Sebutir Debu yang Menjadi Badai

Semuanya bermula dari benda kecil: sebuah lensa kamera profesional. Seorang fansite master asal Korea diduga melanggar aturan dengan menyelundupkan peralatan kamera besar ke dalam konser.

Di era digital, tak ada rahasia yang bisa disimpan rapat. Rekaman aksi tersebut menyebar, kritik bermunculan, dan seharusnya semua bisa berakhir dengan kata maaf yang sederhana.

Namun, ego digital berbicara lain. Alih-alih meredam, sebagian warganet Korea Selatan (Knetz) justru menyiram bensin ke api yang sedang menyala. Serangan balik mereka melampaui batas; mereka tidak lagi membela hobi, melainkan menyerang martabat.

Luka di Sawah dan Hinaan yang Mempersatukan

Kemarahan publik Indonesia meledak ketika Knetz menyeret nama grup band lokal, Nona. Dengan nada angkuh, mereka menyebut video klip lagu “Shoot” sebagai representasi kemiskinan karena berlatar di sawah.

Hinaan itu menjadi semakin gelap ketika rasisme mulai masuk ke ruang obrolan, menyamakan paras perempuan Asia Tenggara dengan makhluk yang tak pantas disebut.

Namun, di titik terendah itulah, sebuah keajaiban lahir. Warganet Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Vietnam yang biasanya sering beradu argumen, tiba-tiba meletakkan ego nasional mereka.

Lahirlah SEAblings (South East Asia Siblings). Sebuah persaudaraan yang lahir dari rasa sakit yang sama.

Kesunyian di Seoul dan Jeju

Dampak dari serangan jempol itu ternyata jauh lebih tajam dari yang diperkirakan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Korea Selatan, Choi Hui-yung, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Kerugian ratusan miliar rupiah menghantam dalam waktu singkat.

Seoul yang biasanya riuh oleh wisatawan belanja, kini kehilangan gairahnya. Di Pulau Jeju, rombongan tur dari Asia Tenggara yang biasanya memenuhi jalanan berpemandangan indah, kini menghilang dari daftar reservasi.

Bahkan, dukungan mengalir dari benua yang jauh; warganet Jerman hingga Brazil ikut berdiri di belakang SEAblings, membatalkan rencana wisata mereka sebagai bentuk protes moral terhadap rasisme.

“Muka Plastik” dan Alarm Keras bagi Dunia Digital

Kini, meja berbalik. Para influencer Korea yang biasanya tampil sempurna di layar TikTok dan Instagram, harus menghadapi kenyataan pahit.

Kolom komentar mereka tak lagi penuh puja-puji, melainkan sindiran tajam tentang “muka plastik”. Tekanan ini begitu hebat hingga beberapa dari mereka harus menutup siaran langsung karena stres yang tak tertahankan.

Bagi Choi Hui-yung, ini bukan sekadar soal angka pembatalan paket tur. Ini adalah alarm keras bagi sebuah bangsa yang menjual budayanya ke seluruh dunia: bahwa kesuksesan sebuah karya tidak akan bertahan lama jika tidak dibarengi dengan rasa hormat terhadap penikmatnya.

Westeros mungkin fiksi dalam drama, namun di dunia nyata, “musim dingin” sedang melanda pariwisata Korea Selatan. Dan kali ini, mereka tidak membutuhkan naga untuk membakar citranya—cukup dengan komentar rasis yang tak terpikirkan dampaknya.

Kisah Knetz dan SEAblings ini adalah pengingat bahwa di dunia yang saling terhubung, rasisme adalah racun yang bisa membunuh ekonomi dalam semalam. Martabat kawasan tidak bisa dibeli dengan konten hiburan sehebat apa pun.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
“Panen” OTT di Awal 2026, Bukti Kegagalan Regenerasi Integritas Kepala Daerah
Dari Leuwigajah ke Bantargebang: Krisis Pengelolaan Sampah yang Tak Pernah Selesai
Langkah Progresif Trump dan Prabowo
Seri 1 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika
10.000 Pelajar Di Kota Bandung di Duga Alami Gangguan Mental: Alarm bagi Keluarga dan Dunia Pendidikan
Perang Sunyi di Bawah Laut, Ancaman Kabel Serat Optik Selat Hormuz dan Kerentanan Dunia Digital
Ironi Perang, Ketika Kemarahan Geopolitik Menghancurkan Kemanusiaan di Iran, dan Peran PBB yang Tak Berdaya

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:24 WIB

Seri 2 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:39 WIB

“Panen” OTT di Awal 2026, Bukti Kegagalan Regenerasi Integritas Kepala Daerah

Senin, 9 Maret 2026 - 21:44 WIB

Dari Leuwigajah ke Bantargebang: Krisis Pengelolaan Sampah yang Tak Pernah Selesai

Senin, 9 Maret 2026 - 11:15 WIB

Langkah Progresif Trump dan Prabowo

Senin, 9 Maret 2026 - 09:00 WIB

Seri 1 – Tarif, Kuota, dan Realitas Baru Perdagangan Indonesia–Amerika

Berita Terbaru