DI POJOK terminal Baranangsiang, Pak Maman (52) tampak sibuk menyeka keringat yang membasahi dahi.
Tangannya yang kasar, legam oleh oli dan panas matahari, dengan cekatan memutar kunci pas pada mesin angkotnya yang sudah berumur dua dekade.
Bagi Pak Maman, suara mesin yang sesekali batuk itu adalah irama kehidupan. Dari sanalah, tiga anaknya bisa sekolah hingga salah satunya kini duduk di bangku kuliah.
Namun, di tahun 2026 nanti, irama itu terancam sunyi. Rencana penghapusan ribuan angkot tua di Kota Bogor sudah di depan mata.
Kota Hujan ingin tampil lebih molek, lebih bersih, dan lebih lancar dengan bus-bus modern yang mengkilap.
Tapi di balik kemilau kaca jendela Biskita, ada ribuan wajah cemas seperti Pak Maman yang bertanya: “Setelah ini, anak istri saya makan apa?”
Modernisasi yang Punya “Hati”
Kita semua sepakat, Bogor butuh bernapas. Kemacetan yang membelit jalanan dan asap hitam dari knalpot angkot tua memang harus diakhiri.
Namun, kebijakan publik bukan sekadar angka di atas kertas Perda atau grafik penurunan emisi. Kebijakan publik adalah tentang manusia.
Menghapus angkot tua berarti memutus rantai ekonomi yang sudah menghidupi ribuan kepala keluarga selama puluhan tahun. Pendekatan hukum semata tidak akan cukup. Kita butuh pendekatan kemanusiaan yang radikal.
Para sopir angkot bukan hanya operator mesin; mereka adalah saksi sejarah pertumbuhan kota. Maka, sangatlah tidak adil jika mereka hanya diberikan “surat pemberitahuan” tanpa diberikan “jalan keluar”.
Bukan Sekadar Modal, Tapi Pendampingan
Saran untuk mengubah sopir menjadi pelaku UMKM memang terdengar manis, namun bisa jadi beracun jika tanpa pendampingan.
Seorang sopir yang menghabiskan 30 tahun hidupnya di balik kemudi tidak bisa serta-merta berubah menjadi pedagang sukses hanya dengan pelatihan tiga hari.
Mereka butuh pendampingan alih profesi yang intensif. Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin memanusiakan mereka, skema penyerapan tenaga kerja ke sektor transportasi modern (seperti Biskita atau angkutan pengumpan) harus menjadi harga mati.
Jangan sampai ribuan sopir ini hanya menjadi penonton di trotoar saat bus-bus mewah melintasi trayek yang dulu mereka kuasai.
Menjamin Masa Depan yang Tak Pasti
Langkah konkret yang dinanti bukan sekadar janji modal usaha. Para sopir butuh kepastian bahwa selama masa transisi alih profesi, dapur mereka tidak berhenti mengepul.
Beasiswa untuk anak-anak sopir terdampak, jaminan kesehatan, hingga akses modal tanpa bunga adalah bentuk “pesangon martabat” yang wajib disiapkan pemerintah.
Modernisasi sejati tidak diukur dari seberapa banyak bus baru yang mengaspal, melainkan dari seberapa sedikit rakyat yang jatuh miskin akibat kebijakan tersebut.
***
Tahun 2026 ini, Pak Maman dan ribuan rekannya kini sedang menatap jalanan dengan perasaan gundah. Mereka mendukung kota yang lebih baik, tapi mereka juga ingin tetap hidup di dalamnya.
Jangan biarkan modernisasi transportasi Bogor meninggalkan “lubang” di meja makan para sopir.
Karena pada akhirnya, sebuah kota dianggap hebat bukan karena busnya yang canggih, tapi karena kemampuannya merangkul mereka yang paling rapuh di tengah perubahan.***
Dadi Munardi, Seorang Jurnalis dan Pemerhati Kebijakan Publik, tinggal di Kota Bogor
***
Sobat Mevin, menurut kamu, apa langkah paling adil yang harus dilakukan Pemkot Bogor agar para sopir angkot ini tidak kehilangan harapan di tahun ini, 2026?
Ayo diskusikan di kolom komentar!
Penulis : Dadi Munardi


























