HUJAN rintik-rintik turun pelan di Jalan Bengawan sore itu. Di teras Djaloe Cafe, aroma kopi yang mengepul bersaing dengan bau tanah basah yang menyelinap lewat pintu kayu.
Suara denting cangkir dan tawa pelan menjadi latar seorang barista yang sibuk mengeringkan meja.
Di sudut ruangan, sekelompok anak muda sedang bercengkerama, menunggu hujan reda. Ketika kopi hitam baru sampai di meja mereka, sebuah lagu mengalun dari speaker kafe—liriknya langsung membuat beberapa orang menoleh sambil tersenyum:
“Anjing kumaha aing we, anjing…”
Bagi orang luar Bandung, kata itu mungkin dianggap kasar. Tapi bagi banyak warga Bandung, terutama mereka yang tumbuh di kawasan Cicadas, kata “anjing” punya makna yang jauh lebih luas dari sekadar umpatan. Ada keakraban di sana, ada kedekatan, ada identitas.
Dan sore itu, lagu “Anak Anjing” karya Ganjar Noor kembali menghidupkan memori kolektif itu.
Bahasa Pergaulan yang Jadi Kultur
Di Cicadas, kata “anjing” sudah lama menjadi penanda keakraban. Sapaan yang hanya muncul ketika lawan bicara adalah kawan yang sudah ngabolang bareng sejak kecil.
Contohnya sederhana: “Anjing, timana wae maneh teh?” (“Bro, dari mana aja kamu?”)
Ganjar Noor menangkap fenomena itu dengan jeli—bukan untuk mengolok, tapi untuk merekam kenyataan hidup anak-anak Cicadas yang tumbuh dengan bahasa yang sama liarnya dengan lingkungan mereka.
“Mulanya saya dengar di Stadion Siliwangi, waktu laga Persib–Persija,” kenang Ganjar, “Ada yang teriak: ‘Anjing maneh lain bejaan aya gogog, anjing!’”
Teriakan itu bukan makian; itu komunikasi spontan anak kota. Dari sana, sebuah lagu lahir.
Lala: Potret Kecil Bandung yang Keras tapi Jujur
Lagu “Anak Anjing” bercerita tentang Lala, bocah Cicadas yang hidupnya tidak pernah benar-benar mudah. Nakal, ceroboh, cerdas, tapi sering salah paham—terutama soal perbedaan antara “anjing” sebagai sapaan dan “gogok” sebagai anjing sungguhan.
Ganjar menuliskan kisah itu apa adanya. Berikut potongan liriknya:
Ku punya sahabat kental, masih bocah sudah nakal…
Dia bernama si Lala, yang hobinya bermain bola.Dia lahir di Cicadas, yang hidupnya serba keras…
Sekolahnya tidak tuntas, padahalmah berotak cerdas.
Dalam lagu itu, Lala dikejar polisi bersama anjing pelacak. Tapi karena terbiasa memanggil teman-temannya “anjing”, ia tak sadar bahwa kali ini “anjing” yang dimaksud adalah yang punya taring.
Ketika kawannya berteriak, “Awas, itu ada gogok!”, barulah Lala panik dan melompat dari dinding sambil ngedumel:
“Anjing, sugan teh teu aya gogok…”
Lugu. Lucu. Tragis. Itulah Bandung, di mata Ganjar Noor.
Ganjar Noor: Seniman yang Merekam Kerasnya Kota
Ganjar Noor bukan sekadar musisi balada. Ia adalah perawi kota. Lewat gitarnya, ia menangkap dinamika sosial Bandung—dari alam, cinta, hingga politik dan isu kemanusiaan. Karya-karyanya tidak hanya bernyanyi; mereka menjadi dokumentasi kecil tentang manusia dan lingkungan sekitarnya.
Dalam “Anak Anjing”, Ganjar tidak sedang mengajarkan bahasa kasar. Ia sedang mengajak kita memahami bagaimana lingkungan membentuk laku, bahasa, dan karakter.
Bahwa bahasa jalanan selalu punya ceritanya sendiri.
Kopi yang Mendingin Pelan, Hujan yang Tidak Kunjung Reda
Di Djaloe Cafe, lagu itu selesai dan berganti ke musik lain. Tapi beberapa pengunjung masih membicarakannya.
Ada yang mengenang masa kecilnya di Cicadas. Ada yang tertawa mengingat salah paham kecil karena kata “anjing”. Ada pula yang hanya mengangguk pelan—seolah lagu itu mengetuk pintu masa lalu mereka.
Di luar, hujan belum juga reda. Bandung sore itu terasa hangat bukan karena kopi, tetapi karena memori yang dibangkitkan oleh lagu sederhana tentang seorang bocah bernama Lala.
Sebuah lagu yang mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar kata—ia adalah budaya, pertemanan, dan cara bertahan hidup.
Di Kota Bandung, bahkan kata yang terdengar kasar pun bisa menjadi musik, cerita, dan cermin kecil tentang siapa kita.***
;
Penulis : Bar Bernad


























