Diplomasi Dengung, Belajar Menjadi Hamba dari Seekor Lalat

- Redaksi

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KITA seringkali menganggap hikmah hanya turun dari podium-podium megah, dari lisan para guru besar, atau dari barisan kalimat di dalam kitab yang bersampul emas.

Kita kerap lupa bahwa Tuhan seringkali menitipkan rahasia-Nya pada makhluk yang paling kita benci, pada sesuatu yang kehadirannya segera kita usir dengan lambaian tangan penuh rasa jijik: Lalat.

Makhluk kecil ini adalah anomali dalam standar estetika manusia. Ia dianggap hina, kotor, dan mengganggu. Namun, di mata para arif, lalat bukan sekadar serangga; ia adalah utusan sunyi yang membawa pesan tentang ketulusan dan kepasrahan yang total.

Penerimaan Tanpa Mimpi yang Lain

Lalat tidak pernah memprotes takdirnya. Ia lahir sebagai lalat, dan ia menerima bentuknya sepenuh hati. Ia tidak pernah bermimpi menjadi kupu-kupu yang disanjung karena keindahan sayapnya, tidak pula ia menyesali dengungnya yang dianggap bising oleh telinga dunia.

Di sinilah lalat menampar ego manusia. Kita, manusia, seringkali habis usianya hanya untuk menjadi “orang lain”. Kita lelah mengejar standar hidup orang lain, meratapi kekurangan fisik, dan memprotes garis tangan.

Lalat mengajarkan bahwa keselamatan batin bermula dari penerimaan terhadap kodrat. Ia menjalani hidup sesuai perintah sunyi Tuhannya tanpa syarat.

Ladang Tugas di Wilayah yang Kita Jauhi

Bagi kita, sisa makanan atau bau busuk adalah hal yang menjijikkan. Namun bagi lalat, itu adalah wilayah amanahnya.

Di situlah hakikat besar terbuka: Tuhan membagi peran, bukan derajat. Apa yang kita anggap rendah secara visual, belum tentu rendah secara fungsi di hadapan Sang Pencipta.

Lalat hadir di tempat yang kita buang karena itulah tugasnya. Ia mengingatkan kita bahwa jalan pulang kepada Tuhan seringkali tidak ditemukan di tempat-tempat yang bersih dan berkilau, melainkan di dalam kerendahan hati—di tempat di mana kita bersedia “turun ke tanah” dan melayani tanpa pilih-pilih tempat.

Tawakal yang Melampaui Rencana

Lalat adalah guru tawakal yang paling jujur. Ia tidak menimbun makanan di gudang, tidak menyimpan untuk esok, dan tidak memiliki rencana panjang yang penuh kecemasan.

Ia hidup sepenuhnya untuk hari ini. Jika ada rezeki, ia hidup; jika tidak, ia mati.

Bandingkan dengan kita yang seringkali mati batinnya karena terlalu sibuk mencemaskan masa depan yang belum tentu kita temui.

Kita sering terjebak dalam ilusi kendali, seolah-olah semua urusan berada di bawah jempol kita. Lalat hidup tanpa ilusi itu. Ia terbang begitu saja, bergantung sepenuhnya pada apa yang tersedia, tanpa beban.

Ibadah Tanpa Haus Pengakuan

Dengung lalat mungkin terdengar berisik bagi kita, namun bukankah itu adalah “dzikir kecil” yang tak peduli pada telinga dunia? Lalat terus terbang, terus hinggap, dan terus menjalankan fungsinya tanpa pernah menuntut pujian atau pengakuan.

Berapa banyak dari kita yang berbuat baik namun matanya masih melirik ke arah jumlah “suka” di media sosial? Berapa banyak amal kita yang layu karena haus akan tepuk tangan?

Lalat mengajarkan kita untuk menjadi setia pada tugas, tidak peduli apakah kita dicintai atau dibenci. Ia hanya patuh pada kodratnya, dan dalam kepatuhan itulah ia menjadi makhluk yang utuh.

Sebuah Cermin di Ujung Sayap

Mungkin, yang selama ini menjauhkan kita dari cahaya Tuhan bukanlah dosa-dosa besar kita, melainkan rasa merasa terlalu suci untuk belajar dari makhluk yang kita remehkan.

Siapa yang menolak hikmah hanya karena pembawanya tampak hina, ia sedang menutup pintu kebenaran dengan tangannya sendiri.

Maka, jika suatu saat seekor lalat hinggap di hadapanmu, jangan terburu-buru mengayunkan tangan. Diamlah sejenak, perhatikan gerakan sayapnya yang kasar itu, dan tanyakan pada dirimu sendiri:

“Sudahkah aku setulus lalat dalam menerima takdirku, atau aku masih terlalu sibuk memoles topeng agar tampak indah di mata manusia, sementara batinku kotor oleh ketidakikhlasan?”***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan
Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka
Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada
Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar
Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026
Ada Apa dengan BEI dan OJK? Ketika Kepercayaan Pasar Diuji, Negara Harus Hadir Menenangkan
Menagih Janji di Balik Etalase Bandung Utama
Sesar Lembang: Literasi Kebencanaan yang Terabaikan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:45 WIB

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:23 WIB

Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka

Selasa, 3 Februari 2026 - 23:30 WIB

Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada

Senin, 2 Februari 2026 - 20:46 WIB

Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar

Senin, 2 Februari 2026 - 08:48 WIB

Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026

Berita Terbaru