Bogor, Mevin.ID — Wacana pembangunan Museum Pakuan Pajajaran yang bakal dinamai Bumi Ageung Batutulis mendapat angin segar.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Pemerintah Kota Bogor untuk menghadirkan kembali jejak kejayaan Kerajaan Sunda dalam bentuk museum yang representatif dan sarat nilai sejarah.
“Gubernur Dedi Mulyadi memberikan apresiasi karena kita sudah menyiapkan calon Museum Pakuan Pajajaran yang diberi nama Bumi Ageung Batutulis,” ujar Wali Kota Bogor Dedie A Rachim di Bogor, Selasa (15/4).
Dedie mengaku terkesan dengan antusiasme warga saat Gubernur Dedi berkunjung ke kawasan Batutulis sehari sebelumnya. Bahkan, Gubernur disebut menghabiskan waktu cukup lama di sekitar Prasasti Batutulis—artefak penting peninggalan Kerajaan Sunda.
Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi tak hanya memberikan dukungan moril, tetapi juga membuka peluang dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mendukung pembangunan museum tersebut.
“Semangat membangun museum juga sudah luar biasa. Tinggal nanti ada sentuhan arsitekturnya supaya lebih mengesankan sebagai sebuah museum sejarah masa lalu,” ujar Dedi.
Selain mendukung pembangunan museum, Dedi juga mengkritisi kondisi bangunan pelindung Prasasti Batutulis saat ini yang dinilai belum mencerminkan nilai budaya dan sejarah yang dikandungnya.
Ia menyatakan siap membangun ulang struktur tersebut dengan desain yang merepresentasikan peradaban Sunda, jika diizinkan oleh Kementerian Kebudayaan.
Tak berhenti di infrastruktur, Gubernur juga berencana menggandeng para ahli—dari geologi, bahasa, sejarah, hingga filologi—untuk menyusun buku akademis tentang Batutulis dan konteks sejarahnya.
“Kita ingin saat masyarakat mengunjungi tempat ini, mereka bukan cuma melihat batu, tapi memahami bahwa dulu pernah ada peradaban besar. Ini menunjukkan bahwa orang Sunda punya leluhur yang cerdas, pintar, dan hebat,” tegasnya.
Dedie berharap, ke depan, siapapun yang memimpin Kota Bogor dapat menjadikan museum ini sebagai ruang edukasi sejarah yang hidup—tentang Sunda, tentang Pakuan Pajajaran, dan tentang identitas yang tidak boleh dilupakan.***
Penulis : Dadi Munardi


























